Muqoddimah: Pemilu dan Keikutsertaan dalam Parlemen

Maret 31, 2009 pukul 3:00 am | Ditulis dalam Politik Islam | 3 Komentar

Seri satu dari empat tulisan: Fatwa Ulama Ahlus Sunnah Tentang Nyoblos dalam Pemilu

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
parlemenSetiap kali menghadapi Pemilihan Umum di negeri ini yang terus berulang setiap lima tahun, sebagian di antara ikhwah salafiyin menjadi bingung, apakah dibolehkan nyoblos ataukah tidak. Kenapa bukan pada kaum muslimin secara umum? Karena ikhwan salafiyyin-lah yang mengetahui kebobrokan dan kerusakan sistem demokrasi yang derivatnya nanti adalah Pemilu. Jadi, kalau mau ditanyakan pada harokah dan hizbiyah yang ada, tentu mereka tidak akan bingung untuk nyoblos karena mereka sendiri melegalkan demokrasi. Jadi tulisan kali ini, kami tujukan kepada para ikhwan salafiyyin yang sangat semangat sekali menyelaraskan setiap langkahnya dengan firman Allah, sabda Rasul, petunjuk para sahabat, dan petuah ulama salafush sholeh.
Namun bagaimanakah pendapat di antara para ulama salafiyyin mengenai pemilu. Kalau kita merujuk pada kitab-kitab ulama salaf terdahulu, pembahasan masalah ini tidak akan kita temui karena masalah pemilu adalah masalah yang baru muncul saat ini. Yang dapat kita telusuri adalah dalam fatwa para ulama mu’ashirin (ulama saat in). Namun apakah para ulama melarang mengikuti pemilu secara mutlak? Ternyata tidak demikian. Sebagian ulama menganggap terlarang (diharamkan) untuk nyoblos. Sebagian lagi membolehkan namun dengan syarat. Sebagian lagi bahkan mewajibkan. Itulah yang ingin kami bawakan dalam tulisan kali ini, yaitu mengenai perselisihan para ulama dalam masalah ikut serta dalam pemilu. Kami akan menampilkan beberapa fatwa dari masing-masing pihak untuk menunjukkan bahwa masalah keikutsertaan dalam pemilu ada perselisihan. Semoga tulisan ini dapat pencerahan bagi ikhwah sekalian.

writing22
Muqoddimah: Pemilu dan Keikutsertaan dalam Parlemen

Sebelum kita mengawali penyebutan fatwa ulama yang berkenaan dengan menyumbangkan suara dalam pemilu, kita terlebih dahulu melihat penjelasan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah- mengenai pemilu dalam pandangan Islam dan hukum masuk dalam parlemen. Penjelasan beliau ini adalah naskah fax berisi jawaban dari pertanyaan partai FIS yang beliau kirim.

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya bagi Allah semata, kami memuji-Nya, memohon pertolongan serta meminta ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kami dan dari keburukan amal kami. Barangsiapa diberi hidayah oleh Allah niscaya tiada seorangpun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya niscaya tiada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tiadailah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Amma ba’du,
Kepada Lajnah Dakwah Dan Bimbingan Massa Partai FIS
Wa `alaikum salam wa rahmatullah wa barakaatuhu
Wa ba’du,

Pagi hari ini, Selasa 18 Jumadil Akhir 1412 H, saya telah menerima surat yang kalian kirimkan melalui faks. Saya telah membacanya dan telah memahami pertanyaan-pertanyaar seputar pemilu yang menurut kalian akan dilaksanakan pada hari Kamis, yakni besok lusa. Kalian berharap agar saya segera memberikan jawaban. Maka dari itu, saya bergegas menuliskan jawabannya pada malam Rabu agar bisa selekas mungkin dikirimkan kepada kalian melalui faks esok harinya insya Allah. Saya menyampaikan terima kasih karena kalian telah berbaik sangka kepada kami dan atas pujian kalian yang sebenarnya tidak layak kami terima. Saya memohon kepada Allah semoga kalian diberi taufik dalam berdakwah dan dalam memberi bimhingan kepada umat.
Sekarang, inilah jawaban saya terhadap pertanyaan kalian sesuai kemudahan yang telah Allah berikan kepada saya dengan mengharap petunjuk Allah, semoga saya ditunjukkan jalan yang benar dalam memberikan jawaban ini:

Pertanyaan pertama: Bagaimana hukum syar’i mengenai pemilu (parlemen) yang akan kami ikuti dalam rangka usaha mendirikan negara Islam atau khilafah Islam?

Jawab: Suasana paling membahagiakan kaum muslimin di negeri mereka ialah ketika bendera Laa Ilaaha Illallah dikibarkan dan hukum Allah dijalankan. Sudah barang tentu setiap muslim menurut kemampuan masing-masing harus berjuang menegakkan negara Islam yang berdasarkan hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya menurut manhaj Salafus Shalih. Sudah diyakini oleh setiap cendekiawan muslim bahwa hal itu hanya bisa diwujudkan dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.

Sebagai langkah pertama, para ulama hendaklah melaksanakan dua perkara penting berikut ini:
Pertama, Mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada kaum muslimin di lingkungannya. Alternatif satu-satunya adalah membersihkan ilmu yang mereka warisi dari para pendahulu dari segala bentuk syirik dan ajaran paganisme yang telah membuat mayoritas umat Islam sekarang tidak lagi memahami makna kalimat Laa ilaaha illallah. Kalimat thayyibah ini memberi konseksuensi wajibnya mengesakan Allah dalam beribadah hanya kepada-Nya semata tiada sekutu bagi-Nya. Tidak meminta bantuan kecuali kepada-Nya, tidak menyembelih kecuali untuk-Nya dan tidak bernadzar kecuali karena- Nya. Dan menyembah-Nya hanya dengan tata-cara yang telah disyariatkan oleh Allah melalui lisan Rasul-Nya, itulah konsekuensi kalimat syahadat Muhammadur Rasulullah.
Sebagai konsekuensinya, para ulama harus membersihkan kitab-kitab fiqih dari pendapat-pendapat dan ijtihad-ijtihad yang bertentangan dengan sunnah Nabi, agar ibadah mereka diterima oleh Allah. Mereka juga harus membersihkan sunnah Nabi dari hadits-hadits dhaif dan maudlu’ yang sejak dahulu telah disusupkan ke dalamnya. Mereka juga harus membersihkan tingkah laku dan etika menyimpang yang terdapat dalam ajaran tarikat-tarikat sufi, misalnya berlebih-lebihan dalam ibadah dan kezuhudan dan masalah-masalah lain yang bertentangan dengan ilmu yang benar.

Kedua, hendaklah mereka mendidik diri sendiri, keluarga dan kaum muslimin di lingkungan mereka dengan ilmu yang benar. Dengan demikian, ilmu mereka akan berguna dan amal mereka akan menjadi amal yang shalih, seperti yang difirmankan Allah,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa”. Barangsiapa rnengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang salih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya “. (QS. Al-Kahfi: 110)

Bila terdapat segolongan kaum muslimin yang melaksanakan gerakan tashfiyah dan tarbiyah yang disyariatkan ini, niscaya tidak akan ada lagi di tengah mereka orang-orang yang mencampuradukkan cara-cara syirik dengan cara-cara syar’i. Karena mereka memahami hahwa Rasulullah telah membawa syariat yang paripurna, lengkap dengan pedoman dan wasilahnya.
Salah satu pedoman tersebut adalah larangan menyerupai orang- orang kafir, misalnya mengambil metode dan sistem mereka yang sejalan dengan tradisi dan adat mereka. Sebagai contoh, memilih pemimpin dan para anggota parlemen melalui pemungutan suara. Cara-cara seperti ini sejalan dengan kekufuran dan kejahilan mereka yang tidak lagi membedakan antara keimanan dan kekufuran, antara yang baik dan yang buruk, antara laki-laki dan perempuan, padahal Allah telah berfirman,

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ? Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam 35-36)

Dan Allah berfirman,

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأُنثَى
“Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan “. (QS. Ali Imran 36)

Demikian pula, mereka mengetahui bahwa dalam usaha menegakkan negara Islam, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengawalinya dengan dakwah tauhid dan memperingatkan mereka dari penyembahan-penyembahan thaghut. Lalu membimbing orang-orang yang menyambut dakwah beliau di atas hukum-hukum syar’i, sehingga kaum muslimin merasa bagaikan tubuh yang satu. Bila salah satu anggota tubuh merasa sakit maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak dapat tidur. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih. Tidak ada lagi di tengah mereka orang-orang yang terus-menerus melakukan dosa besar; riba, zina dan mencuri kecuali segelintir orang saja.
Barangsiapa benar-benar ingin mendirikan negara Islam, jangan-lah ia mengumpulkan massa yang pemikiran dan perilakunya saling bertentangan satu sama lain, seperti yang dilakukan oleh partai-partai Islam dewasa ini. Namun terlebih dahulu harus menyatukan pemikiran dan paham mereka di atas prinsip Islam yang benar, yakni berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas pemahaman Salafus Shalih seperti yang telah diuraikan di atas, saat itulah berlaku firman Allah,

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ . بِنَصْرِ اللَّهِ
“Dan di hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman, dengan pertolongan Allah.” (QS. Ar-Ruum: 4-5)

Siapa saja yang menyimpang dari metode tersebut dalam mendirikan negara Islam dan mengikuti metode orang kafir dalam mendirikan negara mereka, maka perumpamaannya seperti orang yang berlindung dengan pasir yang mendidih dari panasnya api! Cara semacam itu jelas salah -jika tidak boleh disebut dosa- karena menyalahi petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan tidak menjadikan beliau sebagai contoh teladan. Sedang Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahrnat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)

[Disalin dari Madarikun Nazhar Fis Siyasah, Syaikh Abdul Malik Ramadlan Al-Jazziri, edisi Indonesia “Bolehkah Berpolitik?”, hal 40-46]

-bersambung pada fatwa ulama tentang nyoblos dalam pemilu-

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. assalamualaikum wr, wb,

    alhamdulilah, ana telah menemukan hujjah yg selama ini ana cari untuk meneguhkan hati ana dan menasehati teman2 ana. ana memohon kepada Allah agar ana bisa senantiasa berpegang teguh pada Al-Haq ini. dan ana meminta izin untuk memperbanyak atau mengcopy ‘insya allah’. semoga Allah senantiasa menerangi jalan anda atas hujjah dan ilmu yg anda miliki

  2. jazakumullah khaira…

  3. […] [Disalin dari Madarikun Nazhar Fis Siyasah, Syaikh Abdul Malik Ramadlan Al-Jazairi, edisi Indonesia “Bolehkah Berpolitik?”, hal 40-46] Baca Artikel Selengkapnya […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: