Menerima Hadiah dari Orang yang Biasa Bermuamalah dengan Riba

Maret 23, 2009 pukul 3:00 am | Ditulis dalam Muamalah | 2 Komentar
Tag: , ,

ribaAlhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Kita sudah tahu bersama mengenai haramnya memakan riba. Namun, masalah saat ini adalah bagaimana jika kita memperoleh sesuatu dari orang lain yang diduga bahwa harta yang dia berikan berasal dari amalan ribawi? Untuk menjawab hal ini, sebagaimana pada posting-posting terdahulu, kita akan melihat fatwa seorang ulama besar di Saudi Arabia yakni Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin dalam Liqo’ Al Bab Al Maftuh, 2/59.

Syaikh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanya:
Apakah boleh mengambil hadiah dari seseorang yang bermuamalah dengan riba?
Syaikh -rahimahullah- menjawab:
Saya kembali bertanya padamu: Apakah Yahudi biasa memakan riba atau tidak? Jawabannya: iya, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ
“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan) , disebabkan mereka melanggar perjanjian itu.” (QS. An Nisaa’: 155) sampai pada firman Allah,
وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ
“dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil.” (QS. An Nisaa’: 161)

Walaupun kebiasaan mereka memakan riba, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menerima hadiah dari seorang wanita (Yahudi) yang memberi beliau hadiah kambing di Khoibar. Beliau juga sering bermuamalah dengan orang-orang Yahudi. Tatkala meninggal dunia, baju besi beliau digadai pada orang Yahudi.
Oleh karena itu, kami biasa membawakan kaedah:

أن ما حُرِّم لكسبه فهو حرام على الكاسب فقط، دون مَن أخذه منه بطريق مباح.
Sesuatu yang diharamkan karena cara memperolehnya yang haram, maka itu haram bagi orang yang melakukan cara tersebut saja, bukan pada orang yang mengambil darinya melalui jalan yang halal (mubah).

Dari kaedah di atas, ini berarti dibolehkan mengambil hadiah dari orang yang biasa bermuamalah dengan riba. Begitu pula diperbolehkan melakukan jual beli dengannya kecuali jika tidak bermualah dan tidak menerima hadiah darinya terdapat suatu maslahat, maka di sini maslahat yang jadi patokan.
Adapun sesuatu yang diharamkan karena bendanya, maka itu haram bagi orang yang mengambil benda haram tersebut dan juga yang lainnya. Misalnya adalah khomr (minuman keras), seandainya ada yang diberi hadiah minuman semacam ini –misalnya dari orang Yahudi atau Nashrani yang menganggap halalnya khomr-, apakah boleh kita menerima hadiah tersebut? Jawabannya: Tidak boleh karena benda tersebut (khomr) haram dilihat dari bendanya.
Apabila seseorang mencuri barang orang lain, lalu datang padaku dan memberiku barang hasil curian tadi. Barang tersebut haram ataukah tidak (jika saya terima)? Jawabannya: haram. Alasannya, karena barang hasil curian secara benda adalah haram.
Dengan kaedah inilah akan membebaskanmu dari berbagai masalah yaitu kaedah: “Sesuatu yang diharamkan karena cara memperolehnya yang haram, maka itu haram hanya bagi yang melakukan cara tersebut saja, bukan pada orang yang mengambil darinya dengan jalan yang halal”. Kecuali orang yang memberi tersebut adalah orang yang sedang diboikot yaitu tidak boleh mengambil atau menerima hadiah darinya, juga tidak boleh melakukan transaksi jual beli dengannya, maka boikot ini menghalangi untuk bermuamalah dengannya. Mu’amalah semacam ini tidak boleh dilakukan dengan orang yang sedang diboikot karena ada maslahat.
Jadi boleh seseorang memakan hadiah tersebut (yaitu hadiah dari orang yang memperolehnya dengan cara yang haram dan kita diberi darinya dengan cara yang halal). Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah dari orang Yahudi bahkan beliau memakannya?!
****

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shalallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
****
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Muhammad Abduh Tuasikal
25 Rabi’ul Awwal 1430 H

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Assalaamu’alaikum,

    Terus terang saya masih bingung mencerna kaedah ini, sebagaimana pertanyaan saya:

    Apa bedanya barang hasil korupsi dan barang hasil mencuri yg dimakan anaknya, barangnya sama (uang) ?

    Mohon penjelasannya. Terima kasih.

    Wassalaamu’alaikum,

    Eco Syariah

  2. Mohon maaf sebelumnya akh,….. berhubung ada beberapa paragraf yang dihapus, maka saya minta akh ‘Abduh juga menghapus dua posting saya di atas. Tidak adab rasanya… karena tulisan saya jadinya memprotes fatawaa Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Minta dihapus saja ya akh…..

    ‘alaa kulli haal…..

    Mungkin sulit ya membedakan (minimal bagi saya) antara sesuatu hasil curian dengan sesuatu hasil riba – jika itu hendak dibedakan – . Jika dikatakan bahwa kita tidak boleh menerima sesuatu hasil curian, bukankah sesuatu itu (entah berupa barang ataupun uang) juga berasal dari muamalah yang dilarang. Yang haram bukan terletak dari dzat bendanya. Tapi karena aktifitas pencurian yang dilakukan.

    Hal yang sama mungkin kalau kita lihat dari riba. Jika kita katakan menerima sesuatu yang dihasilkan dari riba itu diperbolehkan, lantas dimana perbedaannya dengan yang di atas ?

    Dalam Mukhtashar Minhajil-Qashidin, Ibnu Qudamah menuliskan yang intinya bahwa jika kita ketahui dengan pasti apa yang diberikan kepada kita itu berasal dari yang haram (entah itu riba, pencurian, dan kedhaliman yang lain), maka kita tidak boleh menerimanya. Beda halnya jika sesuatu yang diberikan kepada kita berasal dari harta yang tercampur antara yang halal dan yang haram. Atau kita tidak bisa memastikannya apakah harta atau sesuatu yang diberikan kepada kita itu berasal dari yang halal atau yang haram. Maka di sini diperbolehkan menerimanya atau bermuamalah dengan orang tersebut. Silakan akh untuk membuka Mukhtashar Minhajil-Qaashidin.

    Tentu saja nanti akan kompleks jika mempertimbangkan maslahat dan mafsadat nya seperti diterangkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.

    Wallaahu a’lam bish-shawwaab.

    Abu Al-Jauzaa’


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: