Jika Air Kurang Dari Dua Qullah Kemasukan Najis

Februari 20, 2009 pukul 3:00 am | Ditulis dalam Thoharoh | 3 Komentar
Tag: , ,

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal

water11Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Mungkin sebagian kita pernah mendengar pembagian air seperti ini. Air ada empat macam:

[1] Air yang suci dan mensucikan tidaklah terlarang (tidak makruh) untuk digunakan. Air jenis pertama ini disebut dengan air mutlaq.
[2] Air yang suci dan mensucikan namun makruh untuk digunakan yaitu air musyammas (air yang terkena sinar matahari).
[3] Air yang suci namun tidak mensucikan yaitu air musta’mal (air yang telah digunakan untuk bersuci) dan air yang bercampur dengan sesuatu yang suci.
[4] Air yang najis yaitu air yang bercampur dengan najis dan airnya kurang dari dua qullah atau air tersebut dua qullah namun berubah sifatnya.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Al Qodhi Abu Syuja’ rahimahullah –seorang ulama Syafi’iyah- dalam Matan Al Ghoyat wa At Taqrib (yang terkenal dengan Matan Abi Syuja’). Pembagian semacam ini banyak dianut oleh kaum muslimin di Indonesia yang sebagian besar menganut madzhab Syafi’i.
Pada posting kali ini yang akan kami bahas adalah mengenai air yang najis yaitu air yang kurang dari dua kulah.

Pengertian Air Dua Kulah

Air dua qullah adalah air seukuran 500 rothl ‘Iraqi yang seukuran 90 mitsqol. Jika disetarakan dengan ukuran sho’, dua qullah sama dengan 93,75 sho’ (Lihat Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom, 1/116). Sedangkan 1 sho’ seukuran 2,5 atau 3 kg. Jika massa jenis air adalah 1 kg/liter dan 1 sho’ kira-kira seukuran 2,5 kg; berarti ukuran dua qullah adalah 93,75 x 2,5 = 234,375 liter. Jadi, ukuran air dua qullah adalah ukuran sekitar 200 liter. Gambaran riilnya adalah air yang terisi penuh pada bak yang berukuran 1 m x 1m x 0,2 m.

Hadits Air Dua Qullah

Adapun hadits mengenai air dua qullah adalah sebagai berikut.

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ
“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak mungkin dipengaruhi kotoran (najis).” (HR. Ad Daruquthni)

Dalam riwayat lain disebutkan,

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ
“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya. ” (HR. Ibnu Majah dan Ad Darimi)

Untuk menyimpulkan hukum dari hadits di atas, maka terlebih dulu kita menilik keshahihan hadits di atas.

Penilaian Hadits Dua Qullah

Para ulama berselisih mengenai keshahihan hadits air dua qullah. Sebagian ulama menilai bahwa hadits tersebut mudhthorib (termasuk dalam golongan hadits dho’if/lemah) baik secara sanad maupun matan (isi hadits).
Namun ulama hadits abad ini, yaitu Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini shahih. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ad Darimi, Ath Thohawiy, Ad Daruquthniy, Al Hakim, Al Baihaqi, Ath Thoyalisiy dengan sanad yang shohih. Hadits ini juga telah dishohihkan oleh Ath Thohawiy, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Hakim, Adz Dzahabiy, An Nawawiy dan Ibnu Hajar Al ‘Asqolaniy. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Mayoritas pakar hadits menyatakan bahwa hadits ini hasan dan berhujah dengan hadits ini. Mereka telah memberikan sanggahan kepada orang yang mencela (melemahkan) hadits ini.” (Disarikan dari Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom, 1/116)

Jika Air Lebih Dari Dua Qullah

Dari hadits dua qullah ini, secara mantuq (tekstual) berarti apabila air telah mencapai dua qullah maka dia sulit dipengaruhi oleh najis. Namun, jika air tersebut berubah rasa, bau atau warnanya karena najis, maka dia menjadi najis berdasarkan ijma’ (kesepakatan para ulama).

Misalnya : air bak kamar mandi (jumlahnya kira-kira 300 liter –berarti lebih dari dua qullah-) dikencingi, maka air tersebut tetap dikatakan suci karena air dua qullah sulit dipengaruhi oleh najis. Namun, jika kencingnya itu banyak sehingga merubah warna air atau baunya, maka pada saat ini air tersebut najis.

Inilah mantuq (makna tekstual) dari hadits di atas. Namun secara mafhum dari hadits ini (makna inplisit yaitu bagaimana jika air tersebut kurang dari dua qullah lalu kemasukan najis), para ulama berselisih pendapat. Perhatikan penjelasan selanjutnya.

water2

Jika Air Kurang Dari Dua Qullah

Sebagian ulama seperti Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad dan pengikut mereka menyatakan bahwa jika air kurang dari dua qullah, air tersebut menjadi najis dengan hanya sekedar kemasukan najis walaupun tidak berubah rasa, warna atau baunya.

Jadi menurut pendapat ini, jika air lima liter (ini relatif sedikit) kemasukan najis (misalnya air kencing), walaupun tidak berubah rasa, bau atau warnanya; air tersebut tetap dinilai najis. Alasan mereka adalah berdasarkan mafhum (makna inplisit) dari hadits dua qullah ini yaitu jika air telah mencapai dua qullah tidak dipengaruhi najis maka kebalikannya jika air tersebut kurang dari dua qullah, jadilah najis.

Namun ulama lainnya seperti Imam Malik, ulama Zhohiriyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahb dan ulama Najd menyatakan bahwa air tidaklah menjadi najis dengan hanya sekedar kemasukan najis. Air tersebut bisa menjadi najis apabila berubah salah satu dari tiga sifat yaitu rasa, warna atau baunya.
Alasan pendapat pertama tadi kurang tepat. Karena ada sebuah hadits yang menyebutkan,

إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ
“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.” ( HR. Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ahmad. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 478)

Hadits ini adalah bermakna mantuq (makna tekstual). Sedangkan pendapat pertama di atas berargumen dengan mafhum (makna inplisit). Padahal para ulama telah menggariskan suatu kaedah:

Makna mantuq lebih didahulukan daripada mafhum. Maksudnya, makna yang dapat kita simpulkan secara tekstual lebih utama untuk diamalkan daripada makna yang kita simpulkan secara inplisit. Inilah kaedah yang biasa digunakan oleh para ulama.

Alasan lainnya adalah bahwa hukum itu ada selama terdapat ‘illah (sebab). Jadi kalau ditemukan sesuatu benda suci berubah rasa, warna dan baunya karena benda najis, barulah benda suci tersebut menjadi najis. Jika tidak berubah salah satu dari tiga sifat ini, maka benda suci tersebut tidaklah menjadi najis. Oleh karena itu, dengan alasan inilah pendapat kedua lebih layak untuk dipilih. Wallahu a’lam bish showab.
[Pembahasan ini disarikan dari Tawdhihul Ahkam min Bulughil Marom, 1/118 dan Syarhul Mumthi’, 1/33-34]
menulis5
Inilah pembahasan mengenai air dua qullah. Kesimpulannya, jika air kurang atau lebih dari dua qullah lalu kemasukan najis, maka yang dilihat bukanlah ukurannya, namun yang dilihat apakah bau, rasa atau warnanya berubah atau tidak.
Jika air lebih dari dua qullah kemasukan najis, lalu berubah salah satu dari tiga sifat tadi, maka air tersebut dihukumi najis. Begitu pula jika air kurang dari dua qullah. Jika salah satu dari tiga sifat tadi berubah, maka air tersebut dihukumi najis. Jika tidak demikian, maka tetap dihukumi sebagaimana asalnya yaitu suci. Semoga para pembaca dapat memahami hal ini.
Mengenai air mustakmal dan air musyammas, mudah-mudahan Allah memberikan kami kemudahan untuk membahasnya.

******
Keterangan:
Hadits mudhthorib adalah hadits yang diriwayatkan dalam berbagai bentuk dan sama-sama kuat. Bentuknya adalah seorang rowi atau beberapa orang meriwayatkan hadits dalam bentuk yang berbeda yang saling menyelisihi satu sama lain. Hadits semacam ini dikatakan dho’if (lemah) karena ini pertanda bahwa rowi yang ada kurang dalam masalah dhobth (kuatnya hafalan). (Lihat Min Athyabil Minnah fi ‘Ilmil Mushtholah,hal. 40)
Hadist hasan adalah hadits yang derajatnya di bawah shohih, hanya berbeda dalam dhobith (kuatnya hafalan).
******

Semoga Allah selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Pangukan, Sleman, 23 Shofar 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Muhammad Abduh Tuasikal

3 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Jazzakumullah khoiir.
    dari yang sedang Thalabul ilmi di Batam.

  2. Alhamdulillah,,
    dapat ilmu lagi
    Subhanallah,,,

    jazakallahukhairan katsiran

  3. assalamualaikum..

    Sebuah penjabaran yang baik dan menambah wawasan. Hanya saja anda harus berbesar hati jika ada sebagian orang yang kurang sependapat dengan anda dalam hal ini.
    Illat atau sebab yang menajiskan air kurang dari dua kullah (walaupun tak merubah 3 sifatnya), adalah termasukinya najis pada air tersebut. Bukan perubahannya.

    Walaupun begitu, saya termasuk orang yang sedang mengkaji dalil2 mengenai hal ini. Saya merasa perlu menelaah lagi mengenai status kenajisan air kurang dua kullah yang tidak berubah sifatnya.
    Secara realita, saya merasa akan sangat mubazir jika air yang, taruhlah berjumlah sekitar 100-150 liter lalu termasuki sedikit najis (misal kotoran cicak atau tikus) harus dibuang dan wadahnya harus dicuci.
    belum lagi jika kita mencuci baju yang terkena najis, lalu mencuci dengan mesin cuci yang airnya tidak mencapai 217 liter..
    ataupun jika kita sedang mengucek pakaian yang terkena najis, lalu air kucekan itu terciprat kedalam ember yang berisi air sedikit..
    walah, repotnya..

    Oleh karena itu, saya dukung usaha anda.

    Jazzakullah..

    Wass


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: