Uang Tips, Uang Khianat

Januari 21, 2009 pukul 3:23 pm | Ditulis dalam Muamalah | 24 Komentar
Tag: , , , ,

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST

uang-tipsAda cerita: Seorang pekerja yang bekerja di sebuah tempat servis motor. Setiap bulan memang dia sudah mendapat gaji dari majikannya. Dan mungkin ada beberapa tunjangan lagi yang dia peroleh. Namun suatu saat menservis motor, pelanggan seperti biasa membayar biaya servis kepada majikannya. Kemudian pelanggan tadi menemui pekerja tadi dan memberinya uang tambahan (alias uang tips).

Demikian ceritanya. Apakah memang uang tambahan atau uang tips seperti ini boleh diambil? Apakah termasuk uang halal? Atau malah uang khianat?
Itulah yang akan kami bahas pada posting kali ini. Semoga Allah selalu memudahkan urusan hamba-Nya dalam kebaikan.

Meninjau dalam Kitab Induk Hadits

Awalnya marilah kita melihat dalam kitab induk hadits. Di dalam Shohih Bukhari yang sudah kita kenal, dibawakan bab ‘Hadayal ‘Ummal’. Begitu pula dalam Shohih Muslim, An Nawawi rahimahullah membawakan bab ‘Tahrimu hadayal ‘ummal (diharamkannya hadayal ‘ummal)’. Hadaya berarti hadiah, bentuk plural dari kata hadiyah. Sedangkan ‘Ummal berarti pekerja, bentuk plural (jamak) dari kata ‘aamil.

Hadits Hadayal ‘Ummal

Dalam bab tadi dibawakan hadits berikut dan ini adalah lafazh dari Bukhari yang sengaja kami ringkas. Perhatikanlah hadits tersebut.

Dari Abu Humaid As Sa’idiy, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan seorang pria dari Bani Asad yang bernama Ibnul Utabiyyah untuk mengurus sedekah (maksudnya: zakat). Ketika laki-laki tadi datang dari mengurus zakat, dia lantas mengatakan,
هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِىَ لِى
Ini bagian untuk kalian dan ini hadiah untukku.”
Lalu setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berceramah di atas mimbar (Sufyan juga mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar), kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Allah lalu mengatakan,
مَا بَالُ الْعَامِلِ نَبْعَثُهُ ، فَيَأْتِى يَقُولُ هَذَا لَكَ وَهَذَا لِى . فَهَلاَّ جَلَسَ فِى بَيْتِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَنْظُرُ أَيُهْدَى لَهُ أَمْ لاَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يَأْتِى بِشَىْءٍ إِلاَّ جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ ، إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ ، أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ ، أَوْ شَاةً تَيْعَرُ » . ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَىْ إِبْطَيْهِ « أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ » ثَلاَثًا .
Mengapa ada pekerja yang kami utus, kemudian dia datang lalu mengatakan, “Ini bagian untukmu dan ini hadiah untukku”? Silakan dia duduk di rumah ayah atau ibunya. Lalu lihatlah, apakah dia akan dihadiahi atau tidak? Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidaklah seseorang datang dengan sesuatu (maksudnya mengambil hadiah seperti pekerja tadi, pen) kecuali dia datang dengannya pada hari kiamat, lalu dia akan memikul hadiah tadi di lehernya. Jika yang dipikulnya adalah unta, maka akan keluar suara unta. Jika yang dipikulnya adalah sapi betina, maka akan keluar suara sapi. Jika yang dipikulnya adalah kambing, maka akan keluar suara kambing.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya sampai kami melihat warna debu di ketiak beliau. Lalu beliau mengatakan, “Bukankah aku telah sampaikan (Beliau menyebutnya sebanyak tiga kali).” (HR. Bukhari no. 7174)

Inilah teguran keras Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang tadi. Dia sebenarnya telah mendapatkan upah juga dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, di samping itu dia mendapatkan upah lagi dari orang lain ketika dia memungut pajak yaitu ketika dia melakukan pekerjaannya. Inilah upah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tegur dan tidak suka. Bahkan setelah itu beliau menyebutkan keadaan pekerja semacam ini di hari kiamat.

Uang Tips adalah Uang Khianat

Ada hadits pula dari Abu Humaid As Sa’idiy. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ
Hadiah bagi pekerja adalah ghulul (khianat).” (HR. Ahmad. Sebagian ulama mengatakan bahwa sanad hadits ini dho’if semacam Ibnu Hajar di Fathul Bari. Namun, Syaikh Al Albani menshohihkan hadits ini sebagaimana disebutkan dalam Irwa’ul Gholil)
An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim (6/304) mengatakan,

“Dalam hadits ini (hadits Abu Humaid yang pertama tadi) terdapat penjelasan bahwa hadayal ‘ummal (hadiah untuk pekerja) adalah haram dan ghulul (khianat). Karena uang seperti ini termasuk pengkhianatan dalam pekerjaan dan amanah. Oleh karena itu, dalam hadits di atas disebutkan mengenai hukuman yaitu pekerja seperti ini akan memikul hadiah yang dia peroleh pada hari kiamat nanti, sebagaimana hal ini juga disebutkan pada masalah orang yang berkhianat.
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menjelaskan dalam hadits tadi mengenai sebab diharamkannya hadiah seperti ini, yaitu karena hadiah ini sebenarnya masih karena sebab pekerjaan, berbeda halnya dengan hadiah tadi bagi selain pekerja (atau hadiah karena bukan sebab pekerjaannya, pen). Hadiah yang kedua ini adalah hadiah yang dianjurkan (mustahab). Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan mengenai hukum pekerja yang diberi semacam ini dengan disebut hadiah. Pekerja tersebut harus mengembalikan hadiah tadi kepada orang yang memberi. Jika tidak mungkin, maka diserahkan ke Baitul Mal (kas negara).”

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan hal ini dalam fatwanya. Beliau mengatakan,

“Hadiah bagi pekerja termasuk ghulul (pengkhianatan) yaitu jika seseorang sebagai pegawai pemerintahan, dia diberi hadiah oleh seseorang yang mempunyai kaitan dengan muamalahnya. Hadiah semacam ini termasuk pengkhianatan (ghulul). Hadiah seperti ini tidak boleh diambil sedikitpun walaupun dia menganggapnya baik.”

Lalu beliau mengatakan lagi,

“Tidak boleh bagi seorang pegawai di wilayah pemerintahan menerima hadiah berkaitan dengan pekerjaannya. Seandainya kita membolehkan hal ini, maka akan terbukalah pintu riswah (suap/sogok). Uang sogok seperti ini amatlah berbahaya dan termasuk dosa besar (karena ada hukuman yang disebutkan dalam hadits tadi, pen). Oleh karena itu, wajib bagi setiap pegawai jika dia diberi hadiah yang berkaitan dengan pekerjaannya, maka hendaklah dia mengembalikan hadiah tersebut. Hadiah semacam ini tidak boleh dia terima. Baik dinamakan hadiah, shodaqoh, dan zakat, tetap tidak boleh diterima. Lebih-lebih lagi jika dia adalah orang yang mampu, zakat tidak boleh bagi dirinya sebagaimana yang sudah kita ketahui bersama.” (Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibni Utsaimin, 18/232)

*****
Inilah penjelasan para ulama mengenai uang tips. Betapa banyak perilaku semacam ini di tengah-tengah kita terutama –maaf- pada lingkungan pemerintahan. Misalnya, kita hendak membuat KTP, kartu kuning untuk cari kerja, pasti ada saja uang tips. Sebenarnya biaya untuk bayar KTP cuma Rp.5000,-. Namun, karena pegawai pemerintahan tadi berisyarat atau memang sudah kebiasaan seperti itu, akhirnya dia diberi uang Rp.5000,-, plus hadiah Rp.5000,-. Bukankah perilaku semacam ini sama dengan pekerja yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan?
Kita sebagai pegawai atau pekerja, hendaklah mengembalikan uang tersebut kepada orang yang memberikan hadiah tadi. Lihatlah saran dari dua ulama di atas.
Janganlah khawatir dengan masalah rizki. Mungkin ada yang mengatakan,

“Sayang sekali uang tips tersebut ditolak.”

Saudaraku, cukup nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut sebagai wejangan bagimu.

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)

Semoga pembahasan kali ini bisa menjadi nasehat bagi setiap pekerja dan pegawai di setiap pekerjaannya. Semoga Allah memperbaiki kondisi kaum muslimin. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat, membuahkan amal yang sholih dan semoga kita selalu diberkahi rizki yang thoyib.

Pangukan, Sleman, 24 Muharram 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Muhammad Abduh Tuasikal, ST

24 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. assalamualaikum kunjungi http://www.desasalaf.co.cc moga manfaat

  2. Assalamu’alaikum Akhi. Afwan, keluarga ana memiliki bisnis bengkel, salon mobil, dan hal lain yang berkaitan dengan otomotif.

    Karyawan-karyawan kami biasanya mengumpulkan semua uang tips yang diterima untuk kemudian dibagi rata.

  3. Afwan ada yang terlewat. Uang tips dibagi rata utk seluruh karyawan. Jadi kami tidak mendapatkannya.

    kalau untuk kasus ini tidak apa kan?

  4. @ pengunjung
    Kalau majikan mengetahui hal ini dan seluruh uang betul-betul dikumpulkan kembali kepada majikan. Lalu dibagi rata tanpa ada manipulasi, maka ini tidak mengapa dan tidak termasuk uang khianat. Wallahu a’lam

  5. wah jadi bingung ! kalau yg dicontohkan cuma pegawai negeri
    coba bila yg menerima tips pembantu misalny atau pekerja kebun majikannya itu permasalannya gimana apa termasuk juga haram bila yg memberinya tamu/adik majikannya

  6. Terimakasih informasinya.
    Saya bersyukur kepada Allah SWT, karena diijinkanNya menjadi muslim. Saya bersyukur diijinkan menjadi bagian dari tata nilai paripurna, yang diridhai Allah SWT.
    Semoga Umat Islam dapat menghindari tindakan sogok menyogok dan suap menyuap, sebagai pembeda dengan umat lainnya, dan sekaligus sebagai bakti kepada Allah SWT.
    Untuk berbagi informasi silahkan mampir ke “Sosiologi Dakwah” di http://sosiologidakwah.blogspot.com

  7. Assalamu alaikum,

    akh, gimana dengan bonus yang diberikan oleh perusahaan kepada semua pekerjanya dari hasil keuntungan tahun sebelumnya, kadang 1x atau 2x dalam setahun ?
    Apakah dapat dihukumi seperti diatas ?

  8. @ abu yusuf
    Tidak insya Allah. Karena itu dari atasan. Berbeda denga uang tips, dia peroleh dari orang lain berkaitan dengan pekerjaan. Wallahu a’lam.

  9. Alhamdulillah,,, semoga ilmu ini bisa beramalkan sholih

  10. dan menjaga diri ini tentunya.
    Amiin

  11. Assalamu’alaikum

    Akhi, bagaimana kalau ana kerja ngajar komputer digaji sama bos 400 ribu, kebetulan ana dipekerjakan di sekolah, dari pihak sekolah memberi kepada ana 150ribu tiap bulan, apakah uang yang dari pihak sekolah termasuk uang khianat. Bos ana bekerjasama dengan sekolah, jadi bos ana tidak tau kalau ana dapat tambahan uang dari pihak sekolah. Gimana nih Akh, mohon penjelasan.Jazakallahu khair.

    Wa’alaikumsalam

  12. Assalamu’alaikum,
    Bolehkan tulisan ini diposting di milist assunnah ?
    Jazaakallahu khoiron katsiro

  13. Assalamualaikum wr wb,

    Bagaimana jika pihak lain mentraktir 1 ruangan setelah selesai kontrak kerja sama, apakah hal ini jg termasuk ?

    Terima kasih

    Wassalamualaikum wr wb

  14. @ desri wardani
    Wa’alaikumus salam
    Kalau atasan ukhti tidak mengetahui, maka sebaiknya uang tersebut tidak diambil. Namun, kalau atasan ukhti sudah tahu dan membolehkan, maka itu bukan termasuk khianat.

  15. @ melda
    Wa’alaikumus salam. Silakan aja. Semoga bermanfaat.

  16. @vira
    Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barakatuh.
    Jika tanpa sepengetahuan atasan anti, maka gak diperbolehkan karena itu termasuk khianat. Wallahu a’lam

  17. @ widianto
    Jika majikan sudah memberi gaji, maka tidak boleh tukang kebun menerima hadiah (ingat, jika berkaitan dengan pekerjaan tukang kebunnya). Namun, jika hadiah yang diberikan bukan berkaitan dgn pekerjaaan, maka tidak mengapa. Wallahu a’lam

  18. assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
    kaifa haluka ya akhi abduh ?
    ‘afwan nih akh, ana mau tanya jika ada seorang penumpang becak yang awalnya ia dengan sang penarik becak sudah sepakat dengan tarif angkut semisal Rp 5.000 sampai tujuan. Namun ditengah perjalanan si penumpang merasa iba dengan jerih payah sang penarik becak, setelah berhenti ditempat tujuan lalu si penumpang bayar tarif angkut dengan melebihkan Rp 15.000 dengan alasan karena iba dan prihatin terhadap profesi kerjanya (penarik becak). Yang ingin ana tanyakan, bagaimana sikap terbaik yang harus dilakukan oleh si penarik becak ?

    sebelumnya syukran akh atas jawabannya wa jazakallahu khairan

    abu ihsan al-atsary
    Bekasi (021) 888 55 177

  19. Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

    Alhamdulillah, ana bi khoir. Mudah2an antm jg dmkn. Tp skrg ana lg di gunung kidul, lg menikmati suasana desa yg tenang dan sejuk, berbeda jauh dr kota.
    Gini akhi. Cb antm lht lg pmbhsn di atas. Uang tips yg trlarang dlm pmbhsn ni adl uang tips pd pegawai yg atasannya sudah memberinya gaji. Uang ini dharamkan krn dia sudah mengkhianati atasannya. Atasannya tdk tahu kalo dia dpt upah dr org lain. Inilah uang khianat. Paham kan!
    Jadi, tukang becak tadi usaha sendiri kan. Atau mgkn dia punya majikan tp dia harus nyetor uang br dia dapat gaji dr hasil setorannya. Jd pembhsn tukng becak ini brbeda dgn pmbhsan di atas akhi. Bhkn memberi tkng becak tadi uang tmbhn, adl suatu hal yg sngat baik.
    Ada sbuah hadits dr bukhari: SEMOGA ALLAH MERAHMATI SESEORMG YG SNANTIASA BRBUAT KMUDAHAN KTK MENJUAL,MEMBELI,DAN KTK MENAGIH UTANG.
    Dmkn akhi. Barokallahu fikum, akhi.

  20. Assalamualaikum,
    salam kenal untuk semua.
    sgt tertarik dgn tema yg satu ini, krn saat ini sdg dlm dilema ini.
    Gmn kalo kasusnya spt ini : sy pernah dikasih uang (diluar gaji) oleh atasan, tp sy tdk mndapat penjelesan drmn asal uang itu, bisa jadi beliau dapat dr rekanan. (kebetulan status ini di lingkungan pemerintahan). apa hukumnya?
    yg menjadi dilema, kalau ditolak bs membuat tersinggung, dan kdg beliaunya tdk menjelaskan scr transparan.
    mohon diberi penjelasan.
    Terima kasih
    Oya, td isi pembahasan diatas, sepertinya pernah disinggung di pembahasan sebelumnya, ini merupakan lanjutan, tp sy kok blm pernah baca ya di pembahasan sebelumnya
    Wassalam

  21. Assalamu’alaikum,

    Akhi,kalau dilihat dari hadits2 di atas maka kesimpulannya sederhana saja terkait uang khianat ini,yaitu:
    1. Yang diberi adalah pegawai,bukan pemiliknya (majikannya),jadi kalau terjadi kasus dimana pemilik/perusahaan/instansi yang diberi,itu artinya sebagai shodaqoh dari klien karena merasa puas atas pelayanan yang diberikan,sehingga kalau kemudian si pemilik (majikannya) membagikan kepada pegawainya maka itu bukan uang khianat;
    2. Uang khianat berasal dari klien,bukan dari pemiliknya (majikannya) dan/atau keluarganya,jadi kalau bonus atau tambahan gaji apapun itu istilah dan bentuknya maka bukan uang khianat karena itu juga bentuk shodaqoh karena mungkin pemilik (majikan) dan/atau keluarganya merasa ridho/senang atas pelayanan yang dberikan oleh pegawainya.

    Demikian,mudah2an tidak keliru dan bermanfaat.

    Wassalamu’alaikum..

  22. Wa’alaikumus salam
    @ arief
    Ya kami setuju. Jazakumullah khoiron.

  23. Assalamu alaikum, ana mw tanya nih, berkaitan dengan uang ini, bagaimana jika kasusnya (dalam instansi pemerintah)seorang pegawai menerima pemberian dari rekannya atau atasannya karena mereka puas dengan pekerjaan pegawai tersebut, ambil contoh seorang pegawai yang mengurus pencairan uang makan.apakah ini khianat..?, mohon penjelasannya, syukron

  24. assalamualaikam,…saya mau bertanya, adakalanya saya seorang PNS sering melakukan perjalanan dinas.ketika menerima uang perjalanan dinas itu dari bagian keuangan, saya memberikan mereka uang terima kasih, uang itu saya berikan secara ikhlas, bukan karena mereka yang meminta,.. nah..apakah status uang tersebut, apakah juga menjadi uang khianat bagi mereka yang menerima?,berdosakan saya yang memberi, padahal saya ikhlas?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: