Semoga Engkau Tidak Keliru Mengatakan ‘Si A itu Syahid’

Januari 21, 2009 pukul 2:00 pm | Ditulis dalam Meluruskan | 2 Komentar
Tag: , , , , , , , ,

Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin berikut dalam Liqo’at Al Bab Al Maftuh, 32/13
Diterjemahkan oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST

syahidKami seringkali mendengar di antara saudara kami –yang semoga Allah selalu memberikan taufik dan hidayah kepada mereka- mengatakan seperti ini : Asy Syahid Abdullah Azzam, Asy Syahid Hasan Al Banna, Asy Syahid Sayid Quthb dan baru-baru ini adalah pelaku bom Bali yang telah dieksekusi mati, Amrozi cs mendapat pula julukan syahid atau syuhada.
Apakah tepat mengatakan seperti ini? Semoga kita mendapatkan pencerahan dengan memperhatikan fatwa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin berikut dalam Liqo’at Al Bab Al Maftuh, 32/13 (Asy Syamilah) berikut ini.

Syaikh rahimahullah pernah ditanyakan :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa ‘penghulu syuhada Hamzah (bin Abdul Mutholib) …’[1]. Bagaimanakah aturan dalam menggunakan kata syahid? Apakah kata syahid boleh disandang oleh orang yang mati di medan perang atau digunakan pada orang sholeh yang dipenjara kemudian mati?

Beliau rahimahullah menjawab :
Tidak diragukan lagi, kata ‘syahid’ adalah suatu kata yang sangat disukai (dicintai), sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,
وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ لَهُمْ أَجْرُهُمْ وَنُورُهُمْ
“Dan para syuhada di sisi Rabb mereka, bagi mereka pahala dan cahaya mereka.” (QS. Al Hadid : 19)
Akan tetapi, kita tidak boleh menyatakan bahwa orang tertentu itu syahid kecuali jika Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memastikannya. Hal ini karena beberapa alasan:

PERTAMA
Seandainya kita melihat ada orang yag berperang melawan orang kafir lalu ia terbunuh, kita tidak boleh mengatakan orang ini syahid. Akan tetapi, kita semestinya mengatakan, “Kami berharap orang ini syahid”, atau mengatakan dalam bentuk umum, “Semua orang yang mati di jalan Allah, maka dia syahid.” Kenaa tidak boleh memastikan si A itu syahid karena pernyataan semacam ini adalah perkara yang tidak kita ketahui. Kita mesti melihat apa yang ada dalam hatinya terlebih dahulu. Namun sesuatu yang ada dalam hati adalah perkara yang tidak kita ketahui (tidak dapat diungkap).
(Perhatikan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang terluka di jalan-Nya, Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya … [2].” Inilah sebaik-baik bentuk kehati-hatian dalam berucap. Maksud hadits ini adalah seakan-akan beliau mengatakan ‘janganlah kalian memastikan setiap orang yang mati atau terluka di jalan Allah dengan menyatakan mereka telah betul-betul mati di jalan-Nya (alias ‘mati syahid’). Karena Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya’. Oleh karena itu, pada saat ini janganlah kita menilai seseorang secara zhohir (apa yang tampak) saja. Maksudnya, janganlah kita menetapkan bahwa orang ini syahid karena terkadang kita tidak mengetahui sesuatu dalam hatinya. Boleh jadi dia berperang hanya karena mau disebut pemberani. Boleh jadi pula dia berperang karena mau disebut kesatria. Boleh jadi dia berperang atas dasar fanatisme golongan. Atau dia mungkin berperang karena ingin menegakkan kalimat Allah itu jaya. Yang terakhir inilah yang disebut mati di jalan Allah. Namun, ingatlah bahwa ini semua di bangun di atas niat (harus dilihat apa yang dalam hati terlebih dahulu).

KEDUA
Kita tidaklah mengatakan bahwa si A itu syahid karena seandainya kita mengatakan demikian maka ini berarti kita telah memastikan dia adalah ahli surga. Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang yang syahid pasti masuk surga. Padahal tidak boleh bagi kita untuk memastikan orang tertentu sebagai ahli surga kecuali bagi orang yang telah dipastikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jika kita tidak memastikan bahwa orang tersebut syahid, padahal di sisi Allah orang tersebut dinilai syahid, maka ketidakpastian yang kita munculkan tidaklah akan membahayakan dirinya. Namun sebaliknya, jika kita memastikan bahwa orang tersebut syahid, padahal di sisi Allah orang tersebut tidak dinilai syahid, apakah pemastian kita seperti ini akan bermanfaat bagi dirinya?

Jika memang demikian, lalu kenapa kita mengatakan perkara yang sebenarnya tidak kita ketahui? Sebaiknya kita mengatakan, “Siapa saja yang terbunuh di jalan Allah, maka dia syahid. Kami mengharapkan agar orang tersebut termasuk orang yang benar-benar mati di jalan Allah, semoga dia mendapatkan kesyahidan.”
*********
Semoga Allah selalu memberikan kita petunjuk kepada jalan keselamatan, memberi kita sifat takwa, memberi kita al afaf (sifat sholeh yang gemar melakukan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya), dan semoga Allah memberi kita sifat ghina (merasa cukup dari apa yang ada di hadapan manusia). Allahumma inna as’alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.

Panggang – Gunung Kidul di pagi hari yang penuh berkah, di bulan yang utama untuk beramal sholeh, 1 Dzulhijah 1429 H

Footnote:
[1] HR. Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 374 mengatakan bahwa hadits ini shohih.
[2] Lafazh hadits tersebut adalah :
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُكْلَمُ أَحَدٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ – وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَنْ يُكْلَمُ فِى سَبِيلِهِ – إِلاَّ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ
“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya. Tidaklah seseorang terluka di jalan Allah –Allah lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya-, kecuali pada hari kiamat nanti, dia akan datang dengan warna yang merupakan warna darah dan dengan bau bagaikan bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari no. 2803)

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. “Siapa saja yang terluka di jalan-Nya, Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar terluka di jalan-Nya … [2].” Inilah sebaik-baik bentuk kehati-hatian dalam berucap…..
    Masya Allah,,,

  2. Setuju banget. bisa juga kita membaca matan Aqidah Thahawiyah di bawah ini:

    وَلَا نُنْزِلُ أَحَدًا مِنْهُمْ جَنَّة وَلَا نَارًا، وَلَا نَشْهَدُ عَلَيْهِمْ بِكُفْرٍ وَلَا بِشِرْكٍ وَلَا بِنِفَاقٍ، مَا لَمْ يَظْهَرْ مِنْهُمْ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ، وَنَذَرُ سَرَائِرَهُمْ إلى الله تعالى، وَلَا نَرَى [ القتل ] على أَحَدٍ مِنْ أُمَّة مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وَسَلَّمَ إِلَّا مَنْ وَجَبَ عليه السَّيْفُ).
    Kita tidak menegaskan siapapun akan masuk Surga dan Neraka. Kita juga tidak mengatakan mereka telah kafir, musyrik, atau munafiq. Selama tidak nampak dari mereka sedikit pun dari hal itu. Kita menyerahkan rahasia (isi hati) mereka kepada Allah swt. Kita juga tidak berkeyakinan bisa membunuh siapapun dari umat Muhammad saw kecual orang-orangyang hukuman pedang sudah wajib atasnya. (Al-Aqidah Ath-Thahawiyah)

    salam kenal:
    http://serbagratisbuku.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: