Orang yang Junub dan Wanita Haidh Diperbolehkan Membaca Dzikir dan Do’a

Januari 14, 2009 pukul 12:00 pm | Ditulis dalam Hukum Islam | 2 Komentar
Tag: , , ,

Oleh An Nawawi rahimahullah dalam penjelasan beliau di kitab At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an
Diterjemahkan oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST

al-quran3Posting kali ini adalah lanjutan dari posting terdahulu mengenai membaca Al Qur’an bagi orang yang junub dan wanita haidh (atau nifas). Silakan lihat pembahasan terdahulu di sini. Setelah kami membahas hal tersebut dengan menukil fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz, muncul sebuah pertanyaan dari saudara kami –semoga Allah selalu merahmati beliau-, kalau memang seseorang yang junub tidak boleh membaca Al Qur’an, lalu bolehkah baginya membaca dzikir atau membaca sebagian dari Al Qur’an dengan maksud membaca dzikir (seperti membaca Surat Al Ikhlash, Al Falaq, An Naas sebelum tidur) padahal masih dalam keadaan junub? Berikut kami tambahkan penjelasan terdahulu dengan membawakan perkataan ulama besar, penulis kitab Riyadhus Sholihin yang sudah masyhur yaitu An Nawawi rahimahullah. Semoga bermanfaat.

An Nawawi rahimahullah mengatakan,

Para ulama kaum muslimin sepakat bahwa membaca tasbih, tahlil, tahmid, takbir, shalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dzikir-dzikir lainnya diperbolehkan bagi orang yang junub dan wanita haidh.

Menurut para ulama Syafi’iyah mengatakan, “Jika orang yang junub atau wanita haidh mengatakan pada seseorang dengan panggilan yang serupa dengan ayat Al Qur’an,
يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ
“Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” (QS. Maryam: 12); jika dimaksudkan bukan untuk membaca Al Qur’an, maka seperti ini diperbolehkan. Begitu pula perbuatan semacam ini.”
Begitu pula mereka para ulama Syafi’iyah mengatakan, “Diperbolehkan bagi wanita haidh dan orang yang junub mengucapkan,
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un (QS. Al Baqarah: 156), ketika tertimpa musibah, namun jika dimaksudkan bukan untuk membaca Al Qur’an.”
Begitu pula para ulama Syafi’iyah yang berada di Khurosan mengatakan, “Diperbolehkan bagi seseorang ketika naik kendaraan mengucapkan,
سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ
“Subhanalladzi Maha Suci Rabb yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. (QS. Az Zukhruf: 13). Begitu pula diperbolehkan baginya membaca do’a,
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al Baqarah: 201).”

Imam Al Haromain juga mengatakan, “Jika seseorang yang junub mengucapakan bismillah atau alhamdulillah dan memaksudkannya untuk membaca Al Qur’an, maka dia berdosa. Namun, jika dia membacanya dengan maksud dzikir atau tidak memaksudkan apa-apa (tidak memaksudkan membaca Al Qur’an), maka dia tidak berdosa.”

Saatnya Menarik Kesimpulan

Dari penjelasan An Nawawi rahimahullah di atas dapat kita simpulkan bahwa jika seorang yang junub atau wanita haidh membaca sebagian ayat Al Qur’an namun dimaksudkan untuk dzikir seperti membaca surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas sebelum tidur; atau dimaksudkan untuk berdo’a seperti do’a Rabbana atina fid funya hasanah …; ini semua diperbolehkan karena dimaksudkan bukan membaca Al Qur’an. Begitu juga kalau wanita haidh dan orang yang junub membaca dzikir semacam bacaan tasbih, takbir, bismillah dan alhamdulillah, itu pun diperbolehkan. Wallahu Ta’ala a’lam. Wallahu waliyyut taufiq.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Rujukan:
At Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, Al Imam Abu Dzakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, Tahqiq: Ahmad bin Ibrahim Abil ‘Ainain, Maktabah Ibnu Abbas, cetakan pertama 1426 H.

Pangukan, Sleman, 17 Muharram 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Muhammad Abduh Tuasikal, ST

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Assalamu’alaikum, akhi.
    saya baca disini: http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=180

  2. Wa’alaikumus salam
    Kami tahu permasalahan ini ada khilaf. Dan kami yakini bahwa pendapat sebagaimana yang kami bahas adalah lebih kuat. Dan perselisihan pendapat ini terjadi karena perbedaan dalam penerapan ilmu ushul. Mungkin yang lebih mendalami ilmu ushul akan mengerti mengenai pembahasan lafazh musytarok sebagaimana makna thohir dalam hadits : LAA YAMUSSUL QUR’AN ILLA THOHIR (Tidak boleh menyentuh Al Qur’an selain orang yang suci). Orang yang suci di sini adalah lafazh musytarok yaitu memiliki banyak makna. Terlalu panjang untuk membahas hal ini.
    Intinya, pendapat dan fatwa yang kami sampaikan, inilah pendapat yang lebih hati-hati. Wal ‘ilmu ‘indallah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: