Berkumpul di Rumah Si Mayit untuk Makan, Minum, dan Baca Al Qur’an

Januari 6, 2009 pukul 1:00 pm | Ditulis dalam Hukum Islam | 5 Komentar
Tag: , ,

Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz
Diterjemahkan oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST

rumah2Seorang ulama besar Saudi Arabia dan pernah menjabat sebagai Ketua Al Lajnah Ad Da’imah lil Buhuts wal Ifta’ (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi) yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanyakan:

Di beberapa negeri, jika seseorang meninggal dunia, maka akan berkumpul di rumah si mayit (orang yang meninggal) tadi selama tiga hari, lalu mereka menunaikan shalat (lima waktu) di situ dan mereka mendoakan mayit tersebut. Apa hukum dari perbuatan semacam ini?

Jawaban:
Ketahuilah bahwa berkumpul-kumpul di rumah si mayit untuk makan, minum, atau membaca Al Qur’an termasuk perkara yang diada-adakan yang tercela (baca: bid’ah). Begitu pula mengerjakan shalat lima waktu di rumah (bagi kaum pria) tidak diperbolehkan, bahkan seharusnya para pria menunaikan shalat lima waktu di masjid secara berjama’ah.
Seharusnya yang dilakukan adalah melakukan ta’ziyah di rumah si mayit dan mendoakan mereka serta memberikan kasih sayang kepada mereka yang ditinggalkan si mayit.
[Ta’ziyah adalah memberi nasehat kepada keluarga si mayit untuk bersabar dalam musibah dan berusaha menghibur mereka, pen]
Adapun berkumpul-kumpul untuk menambah kesedihan (dikenal dengan istilah ma’tam) dengan membaca bacaan-bacaan tertentu (seperti membaca surat yasin ataupun bacaan tahlil), atau membaca do’a-do’a tertentu atau selainnya, ini termasuk bid’ah.

Seandainya perkara ini termasuk kebaikan, tentu para sahabat (salafush sholeh) akan mendahului kita untuk melakukan hal semacam ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah melakukan hal ini. Dulu di antara salaf yaitu Ja’far bin Abi Tholib, Abdullah bin Rowahah, Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhum, mereka semua terbunuh di medan perang. Kemudian berita mengenai kematian mereka sampai ke telinga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari wahyu. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian mereka pada para sahabat, para sahabat pun mendoakan mereka, namun mereka sama sekali tidak melakukan ma’tam (berkumpul-kumpul dalam rangka kesedihan dengan membaca Al Qur’an atau wirid tertentu).
Begitu pula para sahabat dahulu tidak pernah melakukan hal semacam ini. Ketika Abu Bakr meninggal dunia, para sahabat sama sekali tidak melakukan ma’tam. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 13/211)

Pangukan, Sleman, 8 Muharram 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Muhammad Abduh Tuasikal, ST

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. tradisi semacam ini sudah sangat membudaya bagi kaum muslimin terutama di kalangan orang jawa.
    begitu ada tetangga yang meninggal dunia, warga langsung berbondong2 bahu membahu menyediakan segala keperluan guna segera mengurus jenazah. termasuk juga menyiapkan berbagai hidangan.
    namun sayangnya hidangan itu tidak hanya disediakan untuk keluarga yang terkena musibah, akan tetapi dan yang utama adalah untuk menyambut para penta’ziah yang datang. hari berduka pun tak gubahnya seperti hari pernikahan atau pesta suka cita lainnya.
    pada dasarnya, betapa bagusnya niat mereka. akan tetapi, mereka tdk sadar kalau hal tersebut adalah tercela (niyahah).

  2. mau tanya…
    dapat dari mana terjemahan fatwa-fatwa ini??
    lalu kalau mau tanya tentang suatu fatwa,,bagaimana caranya???

  3. @ akhi aadunjuve

    Akhi sekedar memberitahu -berkat taufik dan karunia Allah-, kami sudah bisa nerjemahin bahasa Arab, sehingga setiap posting, kami berusaha melihat kitab ulama yang asli dan tidak melihat pada kitab terjemah.
    Kami dua tahun mondok di Ma’had Al ‘Ilmi untuk mengkaji agama ini dan juga mendalami bahasa Arab. Silakan lihat profil kami.
    Kalau mau nanya fatwa, bisa lihat di berbagai kitab ulama dan kami sendiri biasa merujuk pada program aplikasi Maktabah Syamilah yang di dalamnya ada 5000 kitab lebih. Tetapi sebelumnya harus punya modal bahasa Arab dulu.
    Jika mau mencari buku terjemahan mengenai fatwa ulama, silakan cari di toko buku Islam
    Barakallahu fikum.

  4. bagaimana cara menolak acara yg seperti diatas bila disekitar kita sudah menbudaya?

  5. Ditempat saya juga seperti itu, saya lebih suka dengan aliran Muhammadiyah… karena mereka hanya datang pada saat tahlilan dan yasinan tetap saat disajikan makanan dan minuman mereka langsung pulang (katanya sama saja memakan harta anak yatim). tapi ngilangin kebiasaan yg begitu gimana ya? ditempat saya bisa tujuh hari baru selesai tahlilan bayangkan 7 hari kalo tiap malamnya ada makan2 minum2 berapa duit yang mesti disiapin keluarga si mati……… ampuuuun….. kan nyusahin banget


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: