Inilah Tanda Orang yang Mencintai Nabinya

Januari 4, 2009 pukul 3:00 pm | Ditulis dalam Mengenal Rasul | 1 Komentar
Tag:

cinta4Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST

Semua memang mengaku mencintai Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Namun semua pengakuan tidaklah teranggap, jika tidak dibuktikan. Dalam posting kali ini, kita akan melihat siapakah yang betul-betul mencintai beliau shallallahu ’alaihi wa sallam dan bagaimana karakteristik mereka. Semoga bermanfaat.

Mendahulukan dan mengutamakan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam di atas semua orang

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas radhiyallahu ’anhu berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah seorang hamba beriman sehingga aku lebih dicintainya daripada kerabat, harta, dan seluruh manusia.”

Membenarkan segala yang disampaikan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari dusta atau buhtan (fitnah) dan membenarkan segala yang dikabarkan beliau tentang perkara yang telah berlalu, sekarang, dan akan datang.
Allah Ta’ala berfirman:

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

”Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An Najm: 1-4)

Sungguh merupakan ketidakramahan, bahkan benar-benar kufur, menuduh beliau dan mendustakan apa yang diberitakannya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mencela orang-orang musyrik dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ هَذَا الْقُرْآَنُ أَنْ يُفْتَرَى مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (37) أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (38) بَلْ كَذَّبُوا بِمَا لَمْ يُحِيطُوا بِعِلْمِهِ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ (39)

“Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.” (Yunus: 37-39)

Imam Ibnul Qayyim –rahimahullah- berkata,”Puncak etika bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah penerimaan yang sempurna kepadanya, mematuhi perintahnya dan menerima beritanya dengan penerimaan dan pembenaran, tanpa menilainya bertentangan dengan imajinasi batil yang disebutnya dengan logika, menilainya sebagai syubhat atau sesuatu yang meragukan, atau mendahulukan para tokoh dan sampah pikiran mereka dibandingkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian ia menjadikan hakim beliau satu-satunya, menerima keputusannya dengan ridha, dan tunduk serta patuh, sebagaimana ia mengesakan Dzat yang mengutusnya (Allah Ta’ala) dengan peribadatan, ketundukan, kepatuhan, inabah dan tawakal.” (Madarijus Salikin)

Perhatikanlah kedudukan tinggi yang diperoleh Abu Bakar ash-Shidiq –rahiyallahu ‘anhu- yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan iman yang sebenarnya, lalu membenarkannya dengan pembenaran yang sejati.

Dari Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, dia menuturkan,”Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di perjalanan di waktu malam ke Masjidil Aqsha, orang-orang mulai membicarakan hal tersebut.
Lalu sejumlah orang yang sebelumnya telah beriman kepadanya dan membenarkannya menjadi murtad kembali. Mereka pergi dengan membawa berita tersebut kepada Abu Bakar –radhiyallahu ‘anhu- dan bertanya,”Apakah kamu mempercayai sahabatmu; ia menyangka dirinya diperjalankan dalam waktu semalam ke Baitul Maqdis?”
Abu Bakar balik bertanya,”Apakah beliau mengatakan demikian?” Dia menjawab,”Ya.”
Abu Bakar berkata,”Jika beliau memang mengatakan demikian, maka sungguh beliau berkata benar.”
Mereka bertanya kembali,”Apakah kamu mempercayainya bahwa ia pergi dalam waktu semalam ke Baitul Maqdis dan kembali sebelum shubuh?”
Dia menjawab,”Ya, sesungguhnya aku membenarkannya tentang segala yang lebih dari itu. Aku membenarkannya tentang berita langit, baik pagi maupun sore.”
Karena itulah Abu Bakr disebut ash-Shidiq.”

Di antara kandungan yang menunjukkan kedudukan Abu Bakr dan Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

رَاعٍ فِي غَنَمِهِ عَدَا عَلَيْهِ الذِّئْبُ فَأَخَذَ مِنْهَا شَاةً فَطَلَبَهُ الرَّاعِي فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ الذِّئْبُ فَقَالَ مَنْ لَهَا يَوْمَ السَّبُعِ يَوْمَ لَيْسَ لَهَا رَاعٍ غَيْرِي وَبَيْنَمَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً قَدْ حَمَلَ عَلَيْهَا فَالْتَفَتَتْ إِلَيْهِ فَكَلَّمَتْهُ فَقَالَتْ إِنِّي لَمْ أُخْلَقْ لِهَذَا وَلَكِنِّي خُلِقْتُ لِلْحَرْثِ قَالَ النَّاسُ سُبْحَانَ اللَّهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنِّي أُومِنُ بِذَلِكَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا

”Ketika seorang penggembala di tengah-tengah kambingnya, seekor serigela menyerangnya lalu menangkap seekor kambing. Lalu ia mencari kambing tersebut sehingga dapat menyelamatkannya. Serigala itu menoleh kepadanya, lalu berbicara kepadanya,’Siapakah pada hari kiamat yang tidak punya penggembala selainku?’ Ketika itu juga ada seseorang menunggangi seekor sapi. Sapi tersebut menoleh kepadanya dan berbicara kepadanya,’Sesungguhnya aku tidak diciptakan untuk ditunggangi, tetapi aku diciptakan untuk membajak.’ Orang-orang berkata,’Subhanallah’. Beliau Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berkata,”Sesungguhnya aku mengimani (mempercayai hal itu), begitu juga Abu Bakar dan Umar –radhiyallahu ’anhuma-.” (HR. Bukhari)

Beradab di sisi Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dengan bershalawat padanya

Di antara bentuk adab kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah memuji beliau dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang paling mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Rabb-nya dan pujian beliau terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama adalah SHALAWAT DAN SALAM KEPADA BELIAU. Karena hal ini merupakan perintah dan penegasan Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al Ahzab: 56)

Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- berkata,” (يُصَلُّوْنَ) = bershalawat, artinya (يُبَرِّكُوْنَ) = memberi keberkahan.”

Dalam ayat ini Allah memerintahkan supaya bershalawat kepadanya, dan perintah itu menunjukkan KEWAJIBAN. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang bakhil adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shohih ghorib)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Semoga muka seseorang tersungkur, bila namaku disebut di sisinya tetapi dia tidak bershalawat padaku.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan shohih ghorib)

Bershalawat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam disyariatkan dalam berbagai peribadatan, seperti tasyahud, khutbah, shalat jenazah, sesudah adzan, saat berdo’a dan berbagai kesempatan lainnya.

Kalimat shalawat yang paling utama adalah yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya, ketika mereka bertanya, ”Adapun ucapan salam kepadamu kami telah mengetahuinya, lalu bagaimana dengan shalawat?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Ucapkanlah

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Ya Allah sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dikarenakan Engkau bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikan keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dikarenakan Engkau memberkahi keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” (HR. Bukhari)

Bershalawat kepadanya tidaklah lepas dari berbagai faedah dan manfaat karena bershalawat kepada Nabi merupakan faktor diperolehnya berbagai kebajikan, dikabulkannya berbagai do’a, mendapatkan syafa’at, shalawat Allah atas hambanya, keabadian cinta Nabi dan tambahannya, dan selamat dari kebakhilan.

Mengikuti dan Mentaati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang pada petunjuknya

Pada dasarnya semua perbuatan dan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam harus diikuti dan diteladani, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata,”Ayat ini adalah dasar utama untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam ucapan, perbuatan, dan hal ihwal (keadaan) beliau. Karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan manusia agar meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat peristiwa Ahzab dalam hal kesabaran, ketabahan, persiapan perang dan jihadnya, serta menunggu kelapangan dari Rabbnya ‘azza wa jalla.”

Terdapat perintah Allah Ta’ala mengenai wajibnya mentaati Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak ayat. Di antaranya firman Allah Ta’ala:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa’: 80)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ فَتَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidinyang mendapatkan petunjuk. Pegang teguhlah erat-erat dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham. Hati-hatilah dengan perkara baru (dalam agama, baca: bid’ah), sebab setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, hadits hasan shohih)

Imam al-Khaththabi –rahimahullah- berkata,”Yang dimaskud dengan semua itu ialah kesungguhan untuk mengikuti sunnah, seperti orang yang menahan sesuatu dengan gigi gerahamnya dan menggigitnya agar tidak lepas. Menggigit dengan cara seperti ini lebih dapat menahan seseuatu. Sebab sesuatu yang digigit dengan gigi bagian depan (gigi seri, -peny) lebih mudah diambil dan lebih mudah terlepas.”

Ta’at adalah buah dari kecintaan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:


Engkau mendurhakai Rabbmu padahal engkau mengakui mencintai-Nya
Ini sungguh sangat jauh dalam logika

Sekiranya cintamu itu benar niscaya kau mentaati-Nya
Karena orang yang mencintai tentu akan mentaati yang dicintainya

Berhakim kepada Sunnah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Sesungguhnya berhukum dengan sunnah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah salah satu prinsip mahabbah (cinta) dan ittiba’ (mengikuti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam). Tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum dan menerima dengan sepenuhnya syari’atnya.

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’: 65)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- mengatakan,”Setiap orang yang keluar dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariatnya maka Allah telah bersumpah dengan diri-Nya yang disucikan, bahwa dia tidak beriman sehingga ridha dengan hukum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala yang diperselisihkan di antara mereka dari perkara-perkara agama dan dunia serta tidak ada dalam hati mereka rasa keberatan terhadap hukumnya.”

Membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Membela dan meolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah Ta’ala berfirman,

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al Hasyr: 8)

Para sahabat telah mengilustrasikan contoh terindah dan amalan yang paling jujur dalam membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menebusnya dengan harta, anak, dan nyawa, baik saat giat dan terpaksa, sulit maupun mudah. Kitab-kitab sejarah sarat dengan kisah-kisah mereka dan berita-berita mereka yang menunjukkan puncak kecintaan, sikap mendahulukan kepentingan beliau ketimbang diri sendiri, dan pengagungan.

Betapa indahnya perkataan Anas bin Nadhr pada perang Uhud, ketika umat Islam kalah,

”Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap perbuatan mereka (para sahabat) dan aku berlepas diri dari-Mu dari perbuatan mereka (kaum musyrik).”

Kemudian ia maju lalu Sa’ad menemuinya. Dan Anas berkata,”Wahai Sa’ad bin Mu’adz, surga. Demi Rabbnya Nadhr, sesungguhnya aku mencium bau surga dari Uhud.”
Sa’ad berkata,”Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya.”

Anas bin Malik berkata,”Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah gugur dan kaum musyrikin telah mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya.” (Al Bukhari)

Membela Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengharuskan beberapa hal, di antaranya:

(1) Membela para sahabat Nabi –radhiyallahu ’anhum-

Umat telah sepakat bahwa semua sahabat –radhiyallahu ’anhum- adalah terpercaya dan adil serta mereka adalah sebaik-baik umat sesudah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Telah mutawatir nash-nash dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjelaskan hal itu, antara lain firman Allah Ta’ala,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

”Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Al Fath: 18)

Allah berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Fath: 29)

Rasulullah shallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

”Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku. Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud (yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula separuhnya.” (HR. Muslim)

(2) Membela para isteri Nabi, para Ummahatul Mu’minin –radhiyallahu ’anhunna-

Termasuk membela Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ialah membela kehormatannya dan kehormatan para isterinya yang suci, khususnya Ummul Mukminin Aisyah –radhiyallahu ’anha- yang Allah telah membebaskannya (dari segala tuduhan) dari atas langit ketujuh dalam ayat-ayat yang akan dibaca hingga hari kiamat. Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ (11) لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ (12)

”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”

hingga firman-Nya :

وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ (16) يَعِظُكُمَ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (17)

Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (An Nur: 11-17)

Imam Malik –rahimahullah- berkata,”Barangsiapa yang mencela Abu Bakr dan mencela Aisyah harus dibunuh.” Ditanyakan kepadanya,”Mengapa?” Dia berkata,”Barangsiapa menuduhnya, maka ia telah mencela Al Qur’an.”

Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata,”Para ulama semuanya telah bersepakat bahwa siapa yang mencela Aisyah, sesudah Allah menyebutkan hal ini dalam ayat, maka ia KAFIR, karena dia telah menentang Al Qur’an.”

Membela Sunnah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Termasuk membela sunnah beliau shallallahu ’alaihi wa sallam ialah memelihara dan melestarikannya, menjaganya dari ulah kaum yang batil, penyimpangan kaum yang berlebih-lebihan dan ta’wil kaum yang bodoh, membantah syubhat kaum zindiq (munafik) dan pengecam sunnahnya, serta menjelaskan kedustaan-kedustaan mereka. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam telah mendo’akan keceriaan wajah bagi siapa yang membawa panji sunnah ini, dengan sabdanya,

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ

“Semoga Allah menceriakan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Banyak sekali orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Termasuk membela sunnahnya ialah membantah syubhat orang-orang yang melecehkan sunnah yang sah darinya, baik ucapan, perbuatan maupun keyakinan.

Betapa bagus perkataan Abu Bakr bin Khalad ketika menjelaskan kegigihan para salafush sholih untuk membela sunnah nabawiyyah. Dia menuturkan,
”Aku menemui Yahya bin Sa’id saat dia sedang sakit. Lalu dia berkata padaku,”Wahai Abu Bakr, apa yang aku tinggalkan pada penduduk Bashroh yang mereka perbincangkan?” Aku menjawab,”Mereka menyebut kebajikan, cuma mereka mengkhawatirkan terhadapmu karena ucapanmu mengenai orang-orang.” Dia berkata,”Ingatlah ucapanku, seseorang akan menjadi musuhku di akhirat itu lebih aku sukai daripada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjadi musuhku di akhirat seraya berkata,”Telah sampai kepadamu dahulu suatu hadits yang menurut dugaanmu bahwa hadits dariku tersebut tidak shahih, tetapi kamu tidak mengingkarinya.”

Muhammad bin al-Murtadhi al-Yamani berkata,”Pembela sunnah yang membela dari segala yang meracuninya, seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Dia menyiapkan untuk berjihad dengan peralatan dan kekuatan yang disanggupinya, sebagaimana firman-Nya,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

“Persiapkan untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (Al-Anfal: 60)

Menyebarkan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan sunnah dan menyampaikannya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam banyak hadits,

فَلْيُبْلِغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ

“Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.” (HR, Bukhari & Muslim)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Bukhari)
Keinginan untuk menyebarkan sunnah beliau, menyampaikannya, dan mengajarkannya kepada manusia adalah salah satu pintu utama kecintaan dan pengagungan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena hal itu merupakan untuk meninggikan sunnahnya dan menyebarkannya di tengah-tengah manusia. Konsekuensi dari hal itu adalah berupaya untuk mematikan bid’ah dan kesesatan yang menyelisihi perintah dan petunjuknya.

Itulah tanda-tanda cinta dan pengagungan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dengannya derajat pengagungan diukur dan dengannya kehangatan cinta diteliti.

Kita memohon kepada Allah agar menolong kita dan semua saudara-saudara kita seislam untuk berkomitmen dengan sunnah selagi kita masih hidup

Rujukan: Huququn Nabi bainal Ijlal wal Ikhlal, hal.73-89.

Nantikan e-book: ’Mengenal Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam antara yang mencintai dan melecehkan’

Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya
Muhammad Abduh Tuasikal, ST

1 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. YAa…Allah Jadikanlah HAmba Seorang YAng Selalu Mengikuti Sunnah Rasul-Mu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: