Kisah Nyata: Akhirnya Dia Tidak Bisa Mengangkat Tangan Lagi Ketika Makan

Desember 27, 2008 pukul 5:30 pm | Ditulis dalam Kisah | 2 Komentar
Tag: , , ,

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Kisah ini adalah kisah orang yang meremehkan ajaran Nabi. Inilah adzab di dunia yang Allah berikan.
makanBenarlah perkataan manusia terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ,

<لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ
Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang.” (Lihat Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa atsar ini shohih)

Berikut kisah tersebut -semoga kita bisa mengambil ibroh-.

Terdapat sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Muslim
عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ حَدَّثَنِى إِيَاسُ بْنُ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ

Dari Ikrimah bin ‘Ammar, (beliau berkata) Iyas bin Salamah bin Al Akwa’ telah berkata bahwa ayahnya mengatakan kepadanya, ada seorang laki-laki makan dengan tangan kirinya di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
“Makanlah dengan tangan kananmu.”
Lalu dia mengatakan, ”Aku tidak mampu.”
Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ”Engkau memang tidak akan mampu”.
Tidak ada yang menghalanginya untuk mentaati Nabi kecuali rasa sombong. Akhirnya, dia tidak bisa lagi mengangkat tangan kanannya ke mulut. (HR. Muslim no. 5387)

An Nawawi dalam Syarh Shohih Muslim mengatakan, ”Perkataan ‘Tidaklah ada yang menghalanginya kecuali rasa sombong’, ini bukan berarti dia adalah munafik. Karena semata-mata ada rasa sombong dan menyelisihi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah mengharuskan adanya nifak dan kekufuran dalam diri seseorang. Akan tetapi perbuatan ini adalah maksiat, mengingat perintah itu adalah perintah yang harus diperhatikan.”
Inilah akibat dari orang yang meremehkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mudah-mudahan kita tidak tergolong orang-orang semacam ini.
Diselesaikan pagi hari yang penuh berkah, 7 Dzulqo’dah 1429, Pangukan-Sleman

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. salam kenal ya masss…

  2. Assalamualikum wr. wb

    Mas tolong ada cerita2 islami yang bisa menasehatkan postingkan ke email saya yah… Terima kasih

    Wassalamuallikum wr. wb


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: