Ikutilah Aku (Isa)

Desember 22, 2008 pukul 2:37 pm | Ditulis dalam Pelecehan | 2 Komentar
Tag: , , , , , ,

Disusun oleh Muhammad Abduh Tuasikal dan Ari Wahyudi

Ringkasan dari tulisan kami berdua yang pernah dipublish di http://www.muslim.or.id (silakan download artikel selengkapnya di page e-book RUMAYSHO di atas)

kristenisasiYang menyebarkan kerancuan ini adalah Mohamad Ali Makrus Attamimi. Diceritakan bahwa orang ini adalah mantan aktivis FPI. Kemudian murtad, masuk nashrani setelah mendapat ilham dalam mimpi yaitu bertemu dengan Yesus. Namun, ada yang mengatakan bahwa orang ini sudah taubat dan masuk islam lagi. Berikut di antara kerancuan yang dia munculkan di tengah-tengah jama’ah Nashrani, lalu kerancuan ini disebar melalui video dan sampai ke tangan kami.

Beliau mengatakan, ”Saudara kita dari Bani Kedar (beliau menyebut umat Islam dengan istilah ini yang maksudnya adalah keledai liar, pen) juga menantikan Yesus. Dalam surat Az Zukhruf: 61 jelas di sana dikatakan,

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61)

(Namun beliau salah membaca ayat ini dengan menghilangkan huruf lam pada kata sa’ah dan menghilangkan kata biha serta menutup ayat dengan hadza shirothol mustaqim, pen). Beliau artikan,’Sesungguhnya Isa adalah (tanda kiamat) sebagai hakim yang adil, maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’. Jadi dalam ayat ini Al Qur’an memerintahkan untuk mengikuti Isa. Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.”

Sanggahan:

Marilah kita lihat terjemah sebenarnya dari Surat Az Zukhruf ayat 61 (yang terdapat kesalahan bacaan dari beliau) dengan merujuk Al Qur’an terjemahan. Arti ayat tersebut adalah, ”Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”

Lalu bagaimana tafsir ulama mengenai ayat ini?

Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil ‘Azhim mengatakan,

”Tafsir dari Ibnu Ishaq telah disebutkan, yaitu yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah diutusnya Isa ‘alaihis salam di mana beliau ‘alaihis salam akan menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta serta penyakit lainnya.” Kemudian selanjutnya Ibnu Katsir mengatakan,”Yang dimaksudkan dengan ayat ini adalah mengenai turunnya Nabi Isa ‘alaihis salam sebelum hari kiamat. Sebagaimana terdapat pula dalam firman Allah,

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepada Isa (‘alaihis salam) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (QS. An Nisa’ [4] : 159).

Hal ini juga dikuatkan dengan qiro’ah (bacaan) lain dari ayat ini,

“وإنه لعَلَم للساعة”

Yang artinya ‘Sungguh Isa adalah sebagai tanda datangnya hari kiamat’ yaitu Isa sebagai tanda atau petunjuk akan terjadinya kiamat. Dan Mujahid berkata mengenai ayat ini bahwa sebagai tanda hari kiamat adalah keluarnya Isa bin Maryam sebelum hari kiamat. Demikianlah yag diriwayatkan dari Abu Huroiroh, Ibnu Abbas, Abul ‘Aliyah, Abu Malik, ‘Ikrimah, Qotadah, Adh Dhohak, dan selainnya. Juga terdapat hadits mutawatir (melalui banyak jalan periwayatan) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya Isa ‘alaihis salam akan turun sebelum hari kiamat sebagai imam dan hakim yang adil.

Janganlah ragu-ragu dengan hari kiamat (bukan dengan Isa, pen). Sesungguhnya hari kiamat itu pasti terjadi dan bukan sesuatu yang mustahil. Ikutilah Aku mengenai yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya (tentang turunnya Isa). Inilah jalan yang lurus.”

Pertanyaan: Apakah Yesus turun kembali untuk membela orang Nashrani?
Dijawab oleh Al Baghowi dalam tafsirnya.
Beliau berkata,

وروينا عن النبي صلى الله عليه وسلم: “ليوشكن أن ينزل فيكم ابن مريم حكمًا عادلا يكسر الصليب، ويقتل الخنزير ويضع الجزية، وتهلك في زمانه الملل كلها إلا الإسلام”.

”Kami telah mendapatkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,’Sungguh hampir dekat waktunya turun di tengah-tengah kalian (Isa) bin Maryam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghilangkan jizyah (upeti, karena kafir dzimmi sudah tidak ada lagi. Semuanya muslim, ed). Akan dihancurkan seluruh agama di zaman beliau kecuali Islam’.”(HR. Bukhari)

Perhatikanlah, Nabi Isa akan datang bukan untuk membela agama Nashrani, tetapi akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghancurkan agama tersebut.
Dan yang dimaksudkan bahwa beliau menjadi hakim yang adil adalah beliau menjadi hakim dengan menggunakan syari’at Islam, bukan dengan syari’at Nashrani atau syari’at yang baru. Karena tatkala Isa bin Maryam itu turun, syari’at Islam masih tetap berlaku dan tidak terhapus. Bahkan Nabi Isa akan menjadi salah seorang hakim umat ini. Yang menguatkan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Thobroni, dari Abdullah bin Mughoffal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَنْزِل عِيسَى اِبْن مَرْيَم مُصَدِّقًا بِمُحَمَّدِ عَلَى مِلَّته

“Isa bin Maryam akan turun dengan membenarkan agama yang dibawa Nabi Muhammad.” Lihatlah penjelasan tentang hal ini di Fathul Bari, Ibnu Hajar.

Bahkan Nabi Isa akan menjadi makmum di belakang imam kaum muslimin karena Allah memuliakan umat ini.
Al Baghowi menceritakan dalam tafsirnya bahwa ketika Isa mendatangi Baitul Maqdis sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat Ashar, maka Imam di masjid itu mundur dan menyuruh Isa untuk maju. Namun, Nabi Isa enggan, dan dia tetap shalat di belakang Imam tadi dengan syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Lalu beliau mengartikan ayat itu dengan, ’maka ikutilah aku (Isa). Aku adalah jalan yang lurus’.
Waduh! Untuk mendukung pendapatnya dan pemikirannya, dia mengartikan ‘ikutilah Aku’ di sini dengan ‘ikutilah Isa’. Di dalam Al Qur’an Terjemahan saja tidak ditulis seperti itu, tetapi ‘ikutilah Aku, Inilah jalan yang lurus’. Lihatlah kata ‘aku’ dalam Al Qur’an terjemahan ditulis dengan huruf kapital (bukan huruf kecil) yang berarti ‘ikutilah Allah’ dan bukan ikutilah Isa.

Agar lebih jelas, kita lihat tafsir dari para ulama ahli tafsir mengenai ayat ‘Ikutilah Aku’

Ibnu Jarir Ath Thobary mengatakan,

”Ikutilah Aku yaitu Ta’atlah pada-Ku (Allah), lakukanlah segala sesuatu yang Aku perintahkan kepada kalian dan jauhilah yang Aku larang.” Ibnu Katsir mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu ikutilah yang Aku sampaikan kepada kalian dengannya.” Al Baghowi mengatakan,”Ibnu ‘Abbas berkata,’Janganlah mendustakan hari kiamat. Ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah jalan yang lurus yang Aku berada di atas-Nya.” Dalam Tafsir Jalalain disebutkan,”Dan katakanlah kepada mereka, ikutilah Aku di atas tauhid. Inilah yang Aku perintahkan dengannya, yaitu jalan yang lurus.”

Syaikh As Sa’di mengatakan,

”Ikutilah Aku dengan mengikuti yang Aku perintahkan pada kalian dan menjauhi yang Aku larang. Inilah jalan yang lurus yang mengantarkan kepada Allah ‘azza wa jalla.” Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi mengatakan,”Ikutilah Aku yaitu katakanlah kepada mereka, wahai rasul Kami, ikutilah Aku di atas tauhid dan petunjuk yang Aku datangkan pada kalian. Inilah jalan yang lurus yaitu Islam dan Tauhid yang akan memalingkan kalian dari was-was dan kesesatan.” Inilah tafsiran para ulama yang sangat jauh berbeda dengan tafsiran orang ini yang terlalu banyak membuat kesalahan dalam menafsirkan dan memahami Al Qur’an. ‘Ikutilah Aku’ dalam ayat ini bukan berarti ‘Ikutilah Isa’ tetapi Ikutilah Allah di atas tauhid sebagaimana menurut salah satu penafsiran ulama.

Kemudian Makrus mengatakan lagi, ”Dan tidak ada satu pun ayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad ngomong ikutilah aku. Tapi hanya ada satu kata dalam Al Qur’an yaitu ikutilah aku yaitu Isa.”

Baik, kami akan buktikan kedustaan beliau ini. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut, semoga menjadi perenungan bagi kita semua. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron [3] : 31)

Bagaimana tafsiran ayat ini?
Al Baghowi dalam tafsirnya mengatakan,

”Ayat ini diturunkan kepada Yahudi dan Nashrani yang mengatakan,’Kami adalah anak Allah dan yang paling dicintai-Nya’. Kemudian Adh-Dhohak mengatakan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,”Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiam di sekitar orang Quraisy yang sedang memajang berhala-berhala mereka di Masjidil Harom dan menggantungkan pada berhala-berhala itu telur burung unta dan di telinganya diberi shunuf (anting-anting) dan mereka sujud di hadapannya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,”Wahai orang-orang Quraisy, Demi Allah, sungguh kalian telah menyelisihi (mendurhakai) agama ayah kalian –yaitu Ibrahim dan Isma’il-. Kemudian orang Quraisy mengatakan,”Sesungguhnya kami menyembah berhala-berhala tersebut karena kecintaan kami kepada Allah untuk mendapatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah Ta’ala mengatakan,”Katakanlah wahai Muhammad (kepada orang-orang musyrik, pen), jika kalian mencintai Allah dan menyembah berhala untuk mendekatkan diri kalian kepada-Nya, ikutilah aku (Muhammad, pen) maka Allah akan mencintai kalian. Karena sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian dan sebagian hujjah (bukti) bagi kalian. Yaitu ikutilah syari’atku (syari’at Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen) dan sunnahku (jalan hidupku) maka Allah akan mencintai kalian. Maka kecintaan kaum mukminin kepada Allah adalah dengan mengikuti perintah Allah dan taat kepada-Nya dan mengharap ridho-Nya. Dan kecintaan Allah kepada kaum mukminin adalah pujian Allah kepada mereka, ganjaran untuk mereka, dan ampunan Allah untuk mereka. Oleh karena itu Allah mengatakan (yang artinya),” Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku”.

Setelah kita mencermati Surat Ali Imron ayat 31 ini dan tafsirnya, maka jelaslah bahwa di dalam Al Qur’an terdapat perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah sebagai bantahan kepada ‘habib’ ini yang menyatakan tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan perintah untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh klaim dan perkataan beliau ini hanya omong kosong belaka. Dan satu ayat ini saja sudah cukup sebagai bukti.
Oleh karena itu, kalau kaum Nashrani benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah perintah-Nya untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan masuk ke dalam agama Islam ini. Karena Nabi kalian juga telah mengisahkan tentang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Allah firmankan,

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (6)

“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”” (QS. Ash Shof [61] : 6)

Begitu juga kitab kalian (Injil) telah menceritakan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29)

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Muhammad [48] : 29).

Oleh karena itulah, masuklah dalam agama Islam karena agama inilah yang diterima di sisi Allah.

2 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. jazakallahu khoiron…

  2. Maha benar Allah dengan segala firmanNya
    Kemurnian Al Qur’an akan selalu dijaga Allah SWT sampai hari kiamat
    Jazakallah khairon katsiron


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: