Bincang-Bincang Tentang Hukum Facebook

Juni 3, 2009 pukul 11:41 am | Ditulis dalam Nasehat | 37 Komentar
Tag: ,

facebook2Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala. Belakangan ini di antara kita pernah mendengar fatwa haramnya Facebook, sebuah layanan pertemanan di dunia maya yang hampir serupa dengan Friendster dan layanan pertemanan lainnya. Banyak yang bingung dalam menyikapi fatwa semacam ini. Namun, bagi orang yang diberi anugerah ilmu oleh Allah tentu tidak akan bingung mengenai fatwa tersebut.

Dalam tulisan yang singkat ini, dengan izin dan pertolongan Allah kami akan membahas tema yang cukup menarik ini, yang sempat membuat sebagian orang kaget. Tetapi sebelumnya, ada beberapa preface yang akan kami kemukakan.Semoga Allah memudahkannya.

Dua Kaedah yang Mesti Diperhatikan

Saudaraku, yang semoga selalu mendapatkan taufik dan hidayah Allah Ta’ala. Dari hasil penelitian dari Al Qur’an dan As Sunnah, para ulama membuat dua kaedah ushul fiqih berikut ini:

Hukum asal untuk perkara ibadah adalah terlarang dan tidaklah disyari’atkan sampai Allah dan Rasul-Nya mensyari’atkan.

Sebaliknya, hukum asal untuk perkara ‘aadat (non ibadah) adalah dibolehkan dan tidak diharamkan sampai Allah dan Rasul-Nya melarangnya.

Apa yang dimaksud dua kaedah di atas?

Untuk kaedah pertama yaitu hukum asal setiap perkara ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang mensyariatkannya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ibadah adalah sesuatu yang diperintahkan atau dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang memerintahkan atau menganjurkan suatu amalan yang tidak ditunjukkan oleh Al Qur’an dan hadits, maka orang seperti ini berarti telah mengada-ada dalam beragama (baca: berbuat bid’ah). Amalan yang dilakukan oleh orang semacam ini pun tertolak karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

Namun, untuk perkara ‘aadat (non ibadah) seperti makanan, minuman, pakaian, pekerjaan, dan mu’amalat, hukum asalnya adalah diperbolehkan kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya. Dalil untuk kaedah kedua ini adalah firman Allah Ta’ala,

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al Baqarah: 29).

Maksudnya, adalah Allah menciptakan segala yang ada di muka bumi ini untuk dimanfaatkan. Itu berarti diperbolehkan selama tidak dilarangkan oleh syari’at dan tidak mendatangkan bahaya.

Allah Ta’ala juga berfirman,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat .” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al A’raaf: 32).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingkari siapa saja yang mengharamkan makanan, minuman, pakaian, dan semacamnya.

Jadi, jika ada yang menanyakan mengenai hukum makanan “tahu”? Apa hukumnya? Maka jawabannya adalah “tahu” itu halal dan diperbolehkan.
Jika ada yang menanyakan lagi mengenai hukum minuman “Coca-cola”? Apa hukumnya? Maka jawabannya juga sama yaitu halal dan diperbolehkan.
Begitu pula jika ada yang menanyakan mengenai jual beli laptop? Apa hukumnya? Jawabannya adalah halal dan diperbolehkan.
Jadi, untuk perkara non ibadah seperti tadi, hukum asalnya adalah halal dan diperbolehkan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Makan bangkai menjadi haram, karena dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu pula pakaian sutra bagi laki-laki diharamkan karena ada dalil yang menunjukkan demikian. Namun asalnya untuk perkara non ibadah adalah halal dan diperbolehkan.

Oleh karena itu, jika ada yang menanyakan pada kami bagaimana hukum Facebook? Maka kami jawab bahwa hukum asal Facebook adalah sebagaimana handphone, email, blog, internet, radio, dan alat-alat teknologi lainnya yaitu sama-sama mubah dan diperbolehkan.

Hukum Sarana sama dengan Hukum Tujuan

Perkara mubah (yang dibolehkan) itu ada dua macam. Ada perkara mubah yang dibolehkan dilihat dari dzatnya dan ada pula perkara mubah yang menjadi wasilah (perantara) kepada sesuatu yang diperintahkan atau sesuatu yang dilarang.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rahimahullah- mengatakan,

“Perkara mubah dibolehkan dan diizinkan oleh syari’at untuk dilakukan. Namun, perkara mubah itu dapat pula mengantarkan kepada hal-hal yang baik maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang diperintahkan. Perkara mubah terkadang pula mengantarkan pada hal yang jelek, maka dia dikelompokkan dalam hal-hal yang dilarang.
Inilah landasan yang harus diketahui setiap muslim bahwa hukum sarana sama dengan hukum tujuan (al wasa-il laha hukmul maqhosid).”

Maksud perkataan beliau di atas:

Apabila perkara mubah tersebut mengantarkan pada kebaikan, maka perkara mubah tersebut diperintahkan, baik dengan perintah yang wajib atau pun yang sunnah. Orang yang melakukan mubah seperti ini akan diberi ganjaran sesuai dengan niatnya.

Misalnya : Tidur adalah suatu hal yang mubah. Namun, jika tidur itu bisa membantu dalam melakukan ketaatan pada Allah atau bisa membantu dalam mencari rizki, maka tidur tersebut menjadi mustahab (dianjurkan/disunnahkan) dan akan diberi ganjaran jika diniatkan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah.

Begitu pula jika perkara mubah dapat mengantarkan pada sesuatu yang dilarang, maka hukumnya pun menjadi terlarang, baik dengan larangan haram maupun makruh.
Misalnya : Terlarang menjual barang yang sebenarnya mubah namun nantinya akan digunakan untuk maksiat. Seperti menjual anggur untuk dijadikan khomr.

Contoh lainnya adalah makan dan minum dari yang thoyib dan mubah, namun secara berlebihan sampai merusak sistem pencernaan, maka ini sebaiknya ditinggalkan (makruh).

Bersenda gurau atau guyon juga asalnya adalah mubah. Sebagian ulama mengatakan, “Canda itu bagaikan garam untuk makanan. Jika terlalu banyak tidak enak, terlalu sedikit juga tidak enak.” Jadi, jika guyon tersebut sampai melalaikan dari perkara yang wajib seperti shalat atau mengganggu orang lain, maka guyon seperti ini menjadi terlarang.

Oleh karena itu, jika sudah ditetapkan hukum pada tujuan, maka sarana (perantara) menuju tujuan tadi akan memiliki hukum yang sama. Perantara pada sesuatu yang diperintahkan, maka perantara tersebut diperintahkan. Begitu pula perantara pada sesuatu yang dilarang, maka perantara tersebut dilarang pula. Misalnya tujuan tersebut wajib, maka sarana yang mengantarkan kepada yang wajib ini ikut menjadi wajib.

Contohnya : Menunaikan shalat lima waktu adalah sebagai tujuan. Dan berjalan ke tempat shalat (masjid) adalah wasilah (perantara). Maka karena tujuan tadi wajib, maka wasilah di sini juga ikut menjadi wajib. Ini berlaku untuk perkara sunnah dan seterusnya.

Intinya, Hukum Facebook adalah Tergantung Pemanfaatannya

Jadi intinya, hukum facebook adalah tergantung pemanfaatannya. Kalau pemanfaatannya adalah untuk perkara yang sia-sia dan tidak bermanfaat, maka facebook pun bernilai sia-sia dan hanya membuang-buang waktu. Begitu pula jika facebook digunakan untuk perkara yang haram, maka hukumnya pun menjadi haram. Hal ini semua termasuk dalam kaedah “al wasa-il laha hukmul maqhosid (hukum sarana sama dengan hukum tujuan).” Di bawah kaedah ini terdapat kaedah derivat atau turunan yaitu:

1. Maa laa yatimmul wajibu illah bihi fa huwa wajib (Suatu yang wajib yang tidak sempurna kecuali dengan sarana ini, maka sarana ini menjadi wajib)
2. Maa laa yatimmul masnun illah bihi fa huwa masnun (Suatu yang sunnah yang tidak sempurna kecuali dengan sarana ini, maka sarana ini menjadi wajib)
3. Maa yatawaqqoful haromu ‘alaihi fa huwa haromun (Suatu yang bisa menyebabkan terjerumus pada yang haram, maka sarana menuju yang haram tersebut menjadi haram)
4. Wasail makruh makruhatun (Perantara kepada perkara yang makruh juga dinilah makruh)
Maka lihatlah kaedah derivat yang ketiga di atas. Intinya, jika facebook digunakan untuk yang haram dan sia-sia, maka facebook menjadi haram dan terlarang.

Kita dapat melihat bahwa tidak sedikit di antara pengguna facebook yang melakukan hubungan gelap di luar nikah di dunia maya. Padahal lawan jenis yang diajak berhubungan bukanlah mahram dan bukan istri. Sungguh, banyak terjadi perselingkuhan karena kasus semacam ini. Jika memang facebook banyak digunakan untuk tujuan-tujuan seperti ini, maka sungguh kami katakan, “Hukum facebook sebagaimana hukum pemanfaatannya. Kalau dimanfaatkan untuk yang haram, maka facebook pun menjadi haram.”

Waktu yang Sia-sia Di Depan Facebook

Saudaraku, inilah yang kami ingatkan untuk para pengguna facebook. Ingatlah waktumu! Kebanyakan orang betah berjam-jam di depan facebook, bisa sampai 5 jam bahkan seharian, namun mereka begitu tidak betah di depan Al Qur’an dan majelis ilmu. Sungguh, ini yang kami sayangkan bagi saudara-saudaraku yang begitu gandrung dengan facebook. Oleh karena itu, sadarlah!!
Semoga beberapa nasehat ulama kembali menyadarkanmu tentang waktu dan hidupmu.

Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan,

“Aku pernah bersama dengan seorang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”

Lanjutan dari perkataan Imam Asy Syafi’i di atas,

“Kemudian orang sufi tersebut menyebutkan perkataan lain: Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).” (Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”

Ingatlah … kematian lebih layak bagi orang yang menyia-nyiakan waktu.

Ibnul Qayyim mengatakan perkataan selanjutnya yang sangat menyentuh qolbu,

“Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan, maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.” (Al Jawabul Kafi, 109)

Marilah Memanfaatkan Facebook untuk Dakwah

Inilah pemanfaatan yang paling baik yaitu facebook dimanfaatkan untuk dakwah. Betapa banyak orang yang senang dikirimi pesan nasehat agama yang dibaca di inbox, note atau melalui link mereka. Banyak yang sadar dan kembali kepada jalan kebenaran karena membaca nasehat-nasehat tersebut.

Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain apalagi dalam masalah agama yang dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi orang lain.” (Al Jaami’ Ash Shogir, no. 11608)

Dari Abu Mas’ud Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barangsiapa memberi petunjuk pada orang lain, maka dia mendapat ganjaran sebagaimana ganjaran orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
“Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui perantaraanmu maka itu lebih baik bagimu daripada mendapatkan unta merah (harta yang paling berharga orang Arab saat itu).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah saudaraku, bagaimana jika tulisan kita dalam note, status, atau link di facebook dibaca oleh 5, 1o bahkan ratusan orang, lalu mereka amalkan, betapa banyak pahala yang kita peroleh. Jadi, facebook jika dimanfaatkan untuk dakwah semacam ini, sungguh sangat bermanfaat.

Penutup: Nasehat bagi Para Pengguna Facebook

Faedah dari perkataan Imam Asy Syafi’i:

“Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil)”.(Al Jawabul Kafi, 109)

Kami hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga Allah memberikan taufik dan hidayah bagi orang yang membaca tulisan ini. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk memanfaatkan waktu dengan baik, dalam hal-hal yang bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Rujukan:

Al Jawabul Kafi, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah
Al Qowa’id wal Ushul Al Jaami’ah, Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Darul Wathon Lin Nasyr
Jam’ul Mahshul fi Syarhi Risalah Ibni Sya’di fil Ushul, Abdullah bin Sholeh Al Fauzan, Dar Al Muslim
Risalah Lathifah, Abdurrahman bin Nashir As Sa’di

***
Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal
Disusun di Mediu Learning Center, Rabu, 10 Jumadits Tsani 1430 H

About these ads

37 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. Subhanalloh… Nasehat yang sangat bermanfaat bagi saya. terima kasih. Oya maaf, sehubungan dengan facebook, saya mau tanya:
    1. Bagaimana hukumnya meng-invite friends dari lawan jenis dan sebaliknya?
    2. Bagaimana pula hukumnya bila ada teman yang memasang foto di facebooknya sebagai foto profil? Ada seorang teman yang menyarankan pada saya untuk menghapus daftar teman yang masih memajang foto, tapi saya masih ragu, sebab dengan facebook saya bisa terbantu terhubung dengan teman-teman lama.

    Sekian terima kasih

  2. Seperti biasa, kirim artikelnya ke inbox FB ana ya syaikh…

  3. Assalamu’alaikum,

    Mas Abduh juga punya FB tp digunakan untuk dakwah hehehehe, sayangnya mas, skrg banyak yg menggunakannya untuk maksiat spt menaruh foto2 yg terbuka auratnya dan foto2 hubungan intim, naudzubillah.

    Untuk mas adit, saya bantu jawab :
    1. meng-invite friend lawan jenis, selama niatan anda adalah murni untuk mencari teman dan tidak untuk macam2, maka boleh2 aja. Kembali ke niat awal anda mas.
    2. memasang foto pun sbnrnya boleh2 saja, tp lebih baik saya sarankan jagalah privasi anda demi kebaikan anda juga, kita kan tidak tahu dunia maya spt apa. Kadangkala yg terlihat baik justru dialah yg jahat.
    Semoga bisa membantu. Wallahu a’lam

    Wassalamu’alaikum

  4. assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

    syukaron…atas penjelasnya ya akh semoga kita kita dapat mengambil manfatnya (khusus untuk diri ana pribadi).
    dan semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi kebaikan yang banyak pada antum dan keluarga.

    wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

  5. Tengkiu
    atas infonya
    alhamdulillah

  6. Alhamdulillah penjelasan yg sangat lengkap, Jazakallahu Khoiran

  7. 1. Subhaanallooh, nasehat akhy sangat lengkap wa jelas. Usul saja kalo boleh, dari sekian penjelasan di atas, paling bawah mohon diberikan kesimpulannya akhy. Sukron wa ‘afwany.
    2. Sekalian mau tanya, bagaimana sih cara kita posting hijaiyyah ke dalam blog? Jazaakallohu khoiiir.

  8. wah bagus banget mudah2an tidak ada lagi kerancuan dalam masalah ini.
    jazakallahu

  9. ah embuh kedawan tulisane

  10. Assalamualaikum. Ustadz ana ijin copy artikelnya ya? Alhamdulillah, penjelasannya mudah dan jelas. Jazakallahu khoir

  11. Oh ya syaikh, Kitab Zaadul Muhajir (Ar-Risalah At-Tabukiyyah) @ Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, kan kajiannya tinggal sekitar 25 halaman lagi. Jadi, kira-kira akan diganti kitab apa?

    Persiapan beli kitab.

    Baarakallahu fiik, wa uhibbuka fillah.

    —Akhukum—

  12. ass..
    . wah, maksih banyak y uddah ngasih info tentang fb dengan sangad lengkap .
    . bermanfaat sekali .
    . terus berkarya y !!
    . klo adda waktu mampir ke blog kku y !!
    ^^

  13. Alhamdilillah sekali ada yang menerangkan masalah ini, jadi sekarang lebih mengerti yang penting digunakan semestinya jangan sampai berlebihan.

    Arie

    http://alamatgue.com

    http://binjaitech.wordpress.com

    http://jangkrikkrik.wordpress.com

  14. ga sempat bacanya….. mendingan aku print yua….

  15. subhanallah,,,kajian hukum yang bijaksana,,,abne mw bnyak sharing sm antum,,slam kenal ya akhh

  16. jazakumullah khayran ala nashihatikum wa syarhukum an hukmi Facebook ya akhii ..

  17. Terima kasih Syaikh. Ini kalau dalam istilah minang adalah “Katam halui” artinya Kesimpulan dari ahli tentang polemik Facebook

  18. benar..apapun akan baik jika dimanfaatkan/digunakan untuk kebaikan..jg akan jelek jika dimanfaatkan/digunakan untuk kejelekan. mobil juga bs jd haram klu digunakan untuk mencuri / untuk kejahatan. dll…tidak perlu kaku menetapkan halal haram. jgn2 nanti umat islam terperangkap kepada kesempitan berfikir gara2 semua yang banyak diharamkan..yg fleksibel aj…

  19. alhamdulillah…boleh saya share ke teman2 yg lain ust? insya allah akan banyak manfaatnya

  20. ma kasih banyak .. insya Allah saya sudah mulai memanfaatkan FB utk pencerahan ilmu yang sya pelajari, semoga bermanfaat .. amin

  21. Emang sih semua bergantung pada yang menggunakan… man behind the Gun..bukan senjata yang salah tapi yang menggunakan…

    semoga saudara2 q se aqidah dapat menggunakan sebagai media silatu rahim dan media da’wah…

  22. Assalamu’alaikum..
    Alhamdulillah, kita sepengertian, syukran atas dalil2 yang bisa ana ketahui dari bl0g ini..
    Wasalam.

  23. Subhanallah, jazakallah atas infonya akh. sehubungan dengan ini ana mau tanya bagaimana hukumnya
    1. kita menginvite lawan jenis untuk jadi teman kita
    2. memasang foto kita di FB. ana mau penjelasan dari antum. semoga menjadi amalan buat antum.
    ana akan senagn sekali jika antum bisa menjawabnya ke email ana.
    ana minta izin tulisan ini dicopy ke note FB ana ya.. jazakallah

  24. Subhanalaah…., Alhamdulillaah……,
    Jazaakalaah khair , ya akhi
    May Allah bless you…, aamiin ya Mujiibas-saailiin

  25. Assalamu’alaykum..

    Afwan akhy, sepertinya ada yang janggal di bagian ini :

    2. Maa laa yatimmul masnun illah bihi fa huwa masnun (Suatu yang sunnah yang tidak sempurna kecuali dengan sarana ini, maka sarana ini menjadi wajib)

    …”menjadi wajib)”. Maksudnya mungkin “menjadi sunnah” ya…

    Syukron atas artikel yang berfaidah ini.

  26. subhanallah….
    yuk qta share….
    boleh kan….???

  27. Assalamu’laikum…
    Subhanallah… alhamdulillah ni pelajaran yang sangat berharga syukron akhi..

  28. alhamdlillah, trimakasih telah saling mengingat kan

  29. Jazakalloh khoir bayannya. Subhanalloh, walhamdulillah walailahailallohu Akbar……..Islam Is All 4 every solution

  30. Alhamdulillah atas pencerahannya, nanti akan aku postingkan untuk teman2ku thanks syaikh. Wassalam

  31. Artikel ini saya teruskan kepada teman2 saya, dan mohon ijinnya.

  32. Assalamualaikum
    Terima kasih atas infonya… sangat bermanfaat
    semoga menjadi amal baik
    Wassalam

  33. Bismillahirrahmaanirrahiim.
    Untuk Akhi Toghe, bagaimana mungkin Antum mengatakan bahwa memasang foto di FB adalah tidak apa-apa (walaupun dijaga privasinya). Tidakkah Antum membaca fatwa para ulama yang mengharamkan foto makhluk bernyawa ? Jadi, jangankan memasang foto di FB, mengambil foto makhluk bernyawa saja sudah diharamkan. Ya Akhi, berkatalah dengan dalil dan penjelasan dari para ‘Ulama Ahlus Sunnah. Pengecualian pengambilan foto diperbolehkan hanya untuk keperluan-keperluan administrasi seperti pas foto untuk KTP, SIM dan yang semisalnya (Fatwa Syaikh Nashiruddin Al Albani). Wallaahu a’lam.

  34. Andai semua kawan kawan berpikiran seperti sampeyan…Dunia damai, thanks semoga Allah membalas dengan yang lebih baik….

  35. Ass.wr.wb.Setiap sesuatu bergantung dengan niat seseorang,salam untuk semua

  36. Assalamaualaikum warohmatullahi wabrokatuh

    Afwan sebelumnya ya shaikh, ana pijam artikelnya buat kasih ke ikhwan.
    Alhamdulillah, sungguh banyak memberikan pencerahan buat ana.
    Jazakallah khoir ya shaikh

    wassalam

  37. makasih , semoga jadi amal anda.Amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 141 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: